Lantunan Puisi dan Orasi Budaya disampaikan tokoh-tokoh Nasional

Malam Minggu kali ini terasa berbeda di Pesantren As-Shiddiqiyah, Jakarta Barat. Selain suasana yang lebih ramai dari biasanya, para santri disuguhi pengajian yang berbeda, bukan kitab kuning, tapi pengajian kebudayaan. 

Ya, Sabtu malam tadi, para penyair berlatar santri hadir di Kedoya untuk sumbang syair dan puisi. Ada Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Staf Ahli Menteri Prof Oman Fathurahman, Sesditjen Pendidikan Islam Imam Safei, Prie Gs, Panca Suca, Gus Chandra, Sakdiyah Ma‘ruf, dan Roby Habibi. 

Ikut menambah kemeriahan Malam Kebudayaan Pesantren ini, sastrawan Sosiawan Leak.

Malam Kebudayan Pesantren digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN).  Puncak peringatan HSN sendiri akan digelar 22 Oktober 2019.

Semalam, ribuan santri berbaur dengan masyarakat, memadati sudut-sudut ruang sekitar panggung yang telah disiapkan. Secara bergiliran, lantunan puisi dan orasi budaya disampaikan tokoh-tokoh nasional. Seru, sesuai tema yang diangkat, "Ngaji, Ngopi, dan Ngomedi". 

Dapat giliran pertama, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin, mengenang pengalamannya sebagai santri Pesantren Darussalam Gontor. Menurutnya, santri itu punya rasa percaya diri yang luar biasa.

"Saat jatuh cinta, ia mengungkapkan lewat surat, tidak hanya ungkapan hati tetapi biasanya lewat syair yang puitis dan indah. Ketika ditolak, tidak pernah patah hati, karena yakin santriwati yang ditaksir itu tidak paham akan makna syair yang dituliskan," cerita Menag diikuti tawa santri yang datang.  

Ketika menggambarkan sang kyai, Menag terbayang sosok yang  begitu ikhlas, dan keikhlasan itu menjadi ruh bagi semua. Menag lalu mengenang pesan Almaghfurlah Mbah Moen. Bahwa, pendidik tidak perlu mematok muridnya harus menjadi pintar, atau orang penting dan lainnya. 

"Seorang pendidik, cukup mengajarkan ilmu yang  ingin diajarkan dan selalu mendoakan agar ilmu yang diajarkan kepada santri itu bermanfaat," kenangnya. 

Tak lupa, Menag juga menyelipkan pesan pentingnya menghargai keragaman. Dia mengajak untuk menyikapi perbedaan pendapat secara bijak; tidak perlu saling menghina dan menyalahkan. Sebab, segala sesuatu itu ada keutamaannya yang telah ditetapkan Allah. 

"Terutama bagi generasi milenial, dalam bermedsos hendaknya selalu saling menjaga, saling memuliakan, saling menghormati, karena sejatinya itu juga dakwah. Dan, dakwah itu membahagiakan bukan membahayakan," pesan Menag.