Kebijakan tersebut untuk mendorong masyarakat agar mengonsumsi minyak goreng kemasan karena lebih terjamin mutu dan keamanannya.

Mulai 1 Januari 2020, penjualan minyak curah akan dilarang. Pemerintah beralasan, minyak curah yang beredar di pasaran berbahaya untuk kesehatan.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meminta produsen minyak goreng untuk menjual minyak goreng kepada konsumen dalam bentuk kemasan dan memenuhi ketentuan yang berlaku.

“Pada Januari 2020 nanti tidak ada lagi minyak goreng curah sampai ke desa, sampai ke pelosok hingga ke pasar-pasar,” ujar Mendag di Jakarta.

Enggar mengatakan, Kemendag berupaya meningkatkan mutu dan keamanan pangan yang dikonsumsi, salah satunya melalui program pengalihan minyak goreng curah ke minyak goreng kemasan. Total produksi minyak goreng nasional per tahun mencapai 14 juta ton. Dari jumlah ini, alokasi untuk pemenuhan kebutuhan di dalam negeri sekitar 5,1 juta ton. Adapun sisanya untuk kebutuhan pasar luar negeri.

Menurut dia, kebijakan wajib kemas minyak goreng merupakan bagian dari program strategis pemerintah yaitu program peningkatan penggunaan produk dalam negeri. Kebijakan tersebut untuk mendorong masyarakat agar mengonsumsi minyak goreng kemasan karena lebih terjamin mutu dan keamanannya.

Menurutnya, kualitas minyak curah tak bisa dipertanggungjawabkan karena tidak melewati pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Sebuah penelitian yang baru dipublikasikan pada Maret 2019 lalu menemukan potensi penyebaran sel kanker payudara dari kebiasaan mengonsumsi minyak curah.

Studi yang dilakukan sejumlah peneliti dari University of Illinois menemukan, minyak goreng yang telah mengalami beberapa kali pemanasan dapat meningkatkan metastasis kanker payudara. Metastasis merupakan gerakan penyebaran sel kanker dari organ utama menuju organ tubuh lainnya.

Mengutip Medical News Today, studi dilakukan pada sejumlah tikus yang telah disuntikkan sel kanker payudara. Peneliti membagi dua kelompok tikus. Kelompok pertama mengonsumsi minyak segar, sedangkan kelompok kedua mengonsumsi minyak bekas pakai.

"Mereka [sel kanker pada tikus dengan minyak curah] mengalami transformasi yang lebih agresif. Penyebaran juga terjadi pada kelompok tikus yang mengonsumsi minyak segar, tapi [metastasis kanker] tidak seagresif dan seluas itu," ujar peneliti utama, William G Helferich.

Pemanasan berulang dapat mengubah komposisi minyak. Dengan dipanaskan berkali-kali, minyak melepaskan acrolein. Nama terakhir merupakan zat kimia yang berpotensi bersifat karsinogenik atau memicu kanker.

Kendati demikian, penelitian tersebut masih berada pada tahap awal. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan bukti tambahan dan menjelaskan kaitan antara keduanya.

Terlepas dari hasil studi tersebut, minyak bekas memang berpotensi menjadi tempat berkembangnya bakteri jahat. Mengutip LiveStrong, minyak bekas yang telah lama tak digunakan diketahui mengandung radikal bebas yang dapat memicu risiko kanker.

Menggunakan kembali minyak yang sama juga dapat menyebabkan sejumlah masalah seperti risiko penyakit jantung, Alzheimer, Parkinson, dan radang tenggorokan.

Idealnya, minyak digunakan untuk sekali pakai. Namun, pada beberapa kasus, minyak kerap digunakan untuk beberapa kali pakai.

Minyak bekas yang akan kembali digunakan harus melewati beberapa proses terlebih dahulu. Mengutip Times of India, minyak sisa harus didinginkan dan dipindahkan ke dalam wadah kedap udara. Hal itu dilakukan untuk menghilangkan partikel makanan yang dapat merusak minyak lebih cepat.

Periksa warna dan ketebalan setiap kali akan menggunakan minyak bekas pakai. Jika warna telah berubah gelap, artinya minyak tak bisa digunakan kembali.