Defisitnya neraca perdagangan juga terjadi karena impor September 2019 mencapai US$ 14,26 miliar atau naik 0,63 persen dibandingkan Agustus 2019.

Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia pada September 2019 mengalami defisit tipis, yakni sebesar US$160 juta. Dengan demikian, sepanjang 2019, neraca perdagangan masih tekor US$1,95 miliar atau Rp27,5 triliun.

"Defisit ini masih jauh lebih rendah. Defisitnya cenderung menipis," kata Kepala BPS, Suhariyanto, di Jakarta, Selasa (15/10/2019).

Suhariyanto menjelaskan, defisit neraca perdagangan karena nilai ekspor turun tajam dibandingkan Agustus 2018 sebesar 1,29 persen. Lalu dibandingkan September 2018, nilai ekspor Indonesia turun tajam 5,74 persen.

"Dengan nilai ekspor US$ 14,10 miliar September 2019, turun tajam 5,74 persen dibandingkan September 2018," ujarnya.

Sementara untuk ekspor non migas September 2019 mencapai US$ 13,27 miliar atau turun 1,03 persen dibanding Agustus 2019. Dibandingkan year on year, ekspor non migas juga turun 2,70 persen. "Ini karena dapat kita lihat perekonomian global masih diliputi ketidakpastian. Penurunan terjadi hampir menyebar ke seluruh negara tujuan Indonesia," kata dia.

Defisitnya neraca perdagangan juga terjadi karena impor September 2019 mencapai US$ 14,26 miliar atau naik 0,63 persen dibandingkan Agustus 2019. Tapi jika dibandingkan September 2018 turun 2,41 persen.

Sementera impor non mogas September 2019 mencapai US$ 12,67 miliar atau naik 1,02 persen dibandingkan Agustus 2019. Pun dengan September 2018, naik 2,82 persen.

Selain itu, Suhariyanto juga menjelaskan, tingginya impor dari China membuat neraca dagang RI dengan Negeri Tirai Bambu itu tekor paling besar. Nilai tekornya hingga US$13,9 miliar. "Dengan Australia defisit US$1,9 miliar. Thailand defisit menipis dibanding tahun lalu US$2,9 miliar," ujarnya.

Meski demikian, kata Suhariyanto, Indonesia masih mengalami surplus dagang dengan beberapa negara. Misalnya Amerika Serikat (AS), India, dan Belanda.

"Ada beberapa negara yang neraca perdagangannya surplus Januari 2019. Dengan AS US$6,9 miliar, dengan India US$5,4 miliar, Belanda US$1,6 miliar," katanya.

Berikut data neraca perdagangan RI selama 2019

1. Januari: defisit US$ 756 juta
2. Februari: defisit US$ 52,9 juta
3. Maret: surplus US$ 1,12 miliar
4. April: defisit US$ 1,63 miliar
5. Mei: defisit US$ 1,52 miliar
6. Juni: surplus US$ 1,74 miliar
7. Juli: defisit US$ 2,03 miliar
8. Agustus: defisit US$ 1,02 miliar
9. September: defisit US$ 160 juta.