Ada pihak yang mencoba menghilangkan titik-titik temu Peradaban dan Kebudayaan atas nama Agama

Jangan kaget dan ingin berlari dari zaman sekarang yang disebut zaman milenial. Sebab, sebenarnya era sekarang tak jauh beda dengan era lalu. Yang membedakan hanya dulu orang terbjasa berkomunikasi langsung, sekarang tetap berkomunikasi langsung tapi bisa dengan tidak berhadapan.

Hal itu disampaikan ulama kenamaan KH Ahmad Muwafiq, saat Rapat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Jawa Tengah, bertajuk “Komitmen Bersama Menjaga Jateng Tetap Guyub, Toleran, Aman, dan Damai”, di Hotel UTC, Kamis.  

Dia mencontohkan, fitnah dan saling berkata jelek bukan barang baru. Namun, dulu orang misuh (mengumpat) berhadapan langsung dengan orang yang dituju. Sedangkan sekarang dilakukan melalui media sosial. Memfitnah pun demikian.

“Saat yang sama, takmir masjid butuh medsos, gubernur butuh medsos. Tapi orang berkelahi butuh Facebook, orang pacaran butuh Facebook, radikalisme pakai media. Ini zaman baru, tapi pemenangnya tidak banyak. Ini sebenarnya era pertarungan para pemenang,” tegasnya.

Pria yang akrab disapa Gus Muwafiq ini mengungkapkan persoalan di mana ada pihak yang mencoba menghilangkan titik-titik temu peradaban dan kebudayaan atas nama agama. Tindakan itu bukan baru belakangan ini dilakukan, namun dari dulu dengan memasukkan faham-faham tertentu, bahkan ada yang berupaya memudarkan kebersamaan berkumpul untuk mendoakan orang yang meninggal.

Tantangan sekarang ini semakin besar, di saat generasi muda mulai merasa tak membutuhkan kebersamaan dengan orang lain karena sudah tergantikan dengan gadget.

“Milenial seolah tidak butuh kebersamaan. Mencari sesuatu tinggal dari tutorial, atau bahkan sekarang ini bisa tinggal order. Sementara dulu, apa saja butuh tetangga. Ini sebenarnya normal, tapi kita mulai terusik. Agama mengajarkan kita untuk berkumpul, bersatu. Kalau berbeda, ajak berkumpul dan bersatu,” ungkapnya.

Lantas bagaimana mengantisipasinya? Gus Muwafiq menegaskan, di era yang trendnya seolah masyarakat dibuat bodoh, setiap individu mesti membangun kecerdasan. Jangan lupa, bangsa ini berbeda-beda tapi dalam satu Negara.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, hari ini ada kediktatoran teknologi yang menggunakan alat gadget. Semua menggunakan alat itu untuk berpendapat, memaki, menyebarkan isu tidak benar, dan sebagainya.

Dampak negatif penggunaan gawai pun sudah menyasar anak-anak. Dia menunjuk contoh ada anak yang terpaksa dirawat di Rumah Sakit Jiwa akibat tekanan setiap hari bermain handphone, baik nge-game maupun informasi yang belum semestinya diperoleh di usianya tersebut.

Belum lagi virus hasutan yang dimasukkan melalui media sosial, yang berdampak pada bermunculannya poster-poster tak beretika seperti maraknya demonstrasi di kalangan mahasiswa yang menentang revisi Undang-undang KUHP. 

Bahkan ada yang sampai memicu kericuhan. Ironisnya, saat ditanya, tak sedikit anak muda itu yang tak mengerti konten yang didemonya. Tapi, tahukah mereka jika jejak digital tidak bisa hilang?

Untuk itu, Ganjar mengajak seluruh tokoh agama, tokoh masyarakat, dan serluruh warga untuk konklusi bersama, menghormati perbedaan, apa pun agama dan suku. Jaga iklim kondusif, termasuk menjelang pelantikan Presiden RI Joko Widodo dan wakilnya Ma’ruf Amin.

“Berbicara dan menulislah yang baik di medsos. Jaga kata-kata dan perasaan bersama. Meski provokasi bermunculan, kita harus menjaga diri jangan sampai meracuni kita, jangan sampai kita bertindak tidak baik. Satukan agar semuanya bisa merawat Indonesia bersama-sama,” tegas gubernur.

Hal senada juga disampaikan Pangdam IV/ Diponegoro Mayjen TNI Mochamad Efendi. Dia mengajar masyarakat berkontribusi untuk menciptakan persatuan, keamanan dan kenyamanan di tengah perbedaan. 

Selalu tumbuhkan rasa ingin bersatu, rasa ingin membantu satu dengan lainnya, karena itu ciri masyarakat Indonesia.

“Perbedaan disatukan, disinergikan menjadi sesuatu yang kuat, memiliki satu sama lain. Saling bahu membahu, bergandeng tangan untuk saling mengisi dan menguatkan demi Indonesia,” tandasnya.

Rakor Forkopimda tersebut mengundang apresiasi Anggi, mahasiswa Universitas Pandanaran Semarang. 

Melalui event tersebut, dia lebih mengerti apa saja yang mesti diwaspadai di era sekarang, bagaimana mengantisipasinya, termasuk mencegah terpaparnya faham radikalisme yang mengancam kalangan mahasiswa.