Harga minyak kembali melonjak 1,4% menyusul sentimen yang berbalik positif dari perundingan dagang AS-China.

Sentimen dari pernyataan juru bicara kementerian luar negeri China menyangkut perundingan dagang AS-China nampaknya cukup heboh dalam menghuncang pasar. Setelah bursa saham wall Street melonjak dan harga Emas rontok tak tertahankan, pernyataan bernada optimis dari Beijing itu juga mampu mengangkat kembali harga minyak dunia.

Laporan rinci sebelumnya yang beredar menyebutkan, juru bicara kementerian Luar Negeri China, Gao Feng yang mengklaim bahwa   AS dan China telah mencapai kemajuan dengan sepakat untuk menghapus tarif masuk yang kini berlaku secara simultan dan proporsional.

Feng dalam kesempatan yang sama juga menekankan bahwa AS-China kini telah semakin dekat untuk menyegel kesepakatan dagang parsial tahap pertama. Optimisme untuk segera menyegel kesepakatan dagang parsial antara AS dan China akhirnya menyembulkan harapan bahwa tingkat permintaan minyak tidak akan terlalu terganggu.

Pelaku pasar kemudian dengan cepat berbalik melalkukan aksi borong minyak dan harga minyak harus melonjak tajam. Pantauan menunjukkan, harga minyak untuk jenis WTI yang ditutup di kisaran $57,15 per barel atau melonjak 1,4%.

Pelaku pasar nampaknya dengan cepat melakukan langkah antisipasi bila kesepakatan dagang parsial tersegel  akan dengan mudah membuka harapan tumbuhnya harga minyak dunia yang selama ini telah tertekan oleh sentimen perlambatan ekonomi global.

Kabar yang menggembirakan di pasar minyak dunia ini, sudah barang tentu  menjadi kabar suram bagi pemerintahan Indonesia, di mana masih harus mengimpor minyak dalam jumlah besar untuk memompa  kinerja perekonomian Nasional.