Permintaan Jokowi ini pun menjadi pemicu koreksi saham-saham bank. Terutama saham bank BUMN.

Presiden Joko widodo meminta perbankan menurunkan suku bunga kredit. Apalagi Bank Indonesia sudah menurunkan bunga acuannya BI 7-Day Reverse Repo Rate 4 kali beruntun dengan total penurunan 100 basis poin ke level 5 persen.

Permintaan Jokowi ini pun menjadi pemicu koreksi saham-saham bank. Terutama saham bank BUMN.

Pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Jumat (8/11/2019), sejumlah saham bank masih mengalami penurunan.

Saham bank BUMN seperti PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dijual turun 25 poin menjadi Rp7.575 atau turun 0,33 persen. Begitu pula dengan harga saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang turun 25 poin menjadi Rp6.975. Saham PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) juga mengalami penurunan sebesar 25 poin menjadi Rp1.635.

Baca Juga:  Dirut Bank BUMN Kompak Tolak Perintah Jokowi, Apa Alasannya?

Hanya saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang tidak mengalami penurunan maupun kenaikan. Saham BBRI dijual Rp4.000.

Penurunan harga saham juga terjadi pada bank swasta seperti PT Bank Central Asia (BBCA). BBCA mengalami penurunan 25 poin menjadi Rp31.400.

Namun, saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) justru mengalami kenaikan. BNLI naik 35 poin menjadi Rp1.245.

Pada penutupan perdagangan Kamis (7/11) harga saham bank mayoritas finis di zona merah dan membuat kinerja indeks sektor keuangan terkoreksi 0,96 persen ke level 1.269,19 indeks poin.

Saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) mencatatkan koreksi paling dalam dengan anjlok 12,32 persen ke level Rp 1.210/unit saham. Disusul oleh PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) yang melemah 9,29 persen menjadi Rp 1.660/unit saham.

Bahkan harga saham Bank BUKU IV juga tidak dapat menghindar dari gelombang aksi jual kemarin. Harga saham PT Bank Rakyat Indonesa Tbk (BBRI) anjlok 3,85 persen, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) melemah 1,55 persen, PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) turun 0,75 persen, dan Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 0,16 persen.

Hanya saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang berhasil membukukan penguatan dengan kenaikan harga masing-masing sebesar 0,36 persen dan 1,33 persen. 

Permintaan Presiden Jokowi itu pun ditanggapi beragam oleh bank BUMN. Seperti BRI yang menyatakan penurunan suku bunga kredit tak bisa serta merta dilakukan langsung setelah suku bunga acuan diturunkan. Untuk menurunkan suku bunga ini, bank perlu menyesuaikan dengan jatuh tempo liabilitas yang dimilikinya.

"Kita masih punya liabilitas yang jatuh temponya satu bulan ketika suku bunga turun hari ini, artinya itu masih butuh transmisi dan butuh waktu," kata Sunarso, Direktur Utama BRI.

Begitu juga, PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) penurunan suku bunga harus mempertimbangkan cost of fund bank dan persaingan antar bank. Setelah cost of fund turun maka barulah Mandiri akan mengikuti dengan menurunkan tingkat bunga kreditnya.

"Kita manage cost of fund-nya kita tekan biayanya. Sama kemarin saya bilang pas PE kita punya Rp 20 triliun bond jatuh tempo, itu SUN variable rate. Begitu dia sudah cair jadi uang tunai yang tidak ada bunganya itu mengobati sekali struktur cost of fund kami," kata Panji Irawan, Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri.

Tak jauh berbeda, Direktur Utama PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) Tigor Siahaan mengatakan bahwa tingkat bunga deposito saat ini masih cukup tinggi dengan tenor yang masing-masing berbeda. Bank ini berjanji akan menurunkan tingkat bunga jika bunga deposito sudah bisa diturunkan.

"Tapi secara umum kita sesuaikan, bukan cuma dari pinjaman tapi dari deposit juga, tapi orang banyak nggak mau deposito turun bunganya," jelasnya.

Dari PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) menyebutkan saat ini cost of bunga masih cukup tinggi di level 3,2%. Targetnya di akhir tahun ini perusahaan akan menurunkan tingkat biaya ini untuk memantapkan penurunan tingkat bunga kredit yang disalurkan perusahaan.

"Kita sekarang lagi turun dulu pelan-pelan kan kemarin 3,2%. Kita lihat pelan-pelan. Kalau cost of fund turun kita baru berani nurunin [bunga kredit]," kata Ario Bimo, Direktur Keuangan BNI.