Rupiah diyakini akan mampu menjejak zona penguatan dalam menjalani sesi perdagangan hari kedua pekan ini, Selasa (3/12).

Setelah terdera dengan tekanan jual yang konsisten di sepanjang sesi perdagangan awal pekan kemarin, gerak nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar AS diperkirakan akan mampu berbalik menguat di sesi perdagangan hari kedua pekan ini, Sekasa (3/12).

Pantauan pada sesi perdagangan kemarin menunjukkan, gerak melemah Rupiah yang seakan tak tertahankan di tengah suntikan  sentimen internal yang positif dari rilis data inflasi bulanan yang sangat terkendali. Rupiah bahkan menutup sesi perdagangan kemarin di kisaran Rp14.120 per Dolar AS atau merosot 0,14%.

Sementara sentimen eksternal dari rilis data manufaktur China yang menginjak zona ekspansi serta sentimen data inflasi bulanan yang sangat terkendali gagal menghambat pelemahan Rupiah. Kini, seiring dengan berbaliknya sentimen dari AS, di mana indeks manufaktur (yang sering disebut sebagai indeks PMI) untuk bulan November disebutkan hanya mencapai 48,1, diyakini akan memberikan energi bagi Rupiah untuk berbalik menguat.

Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, indeks PMI di AS untuk November lalu yang kembali berada mengalami kontraksi dengan berada di kisaran 48,1. Poisisi tersebut juga jauh lebih buruk ketimbang ekspektasi pasar yang di kisaran 49,4.

Sentimen suramnya data manufaktur AS tersebut kemudian menjadi sokongan bagi pelaku pasar untuk melepas Dolar AS hingga meruntuhkan indeks Dolar AS untuk kini berada di kisaran 97,86. Situasi demikian secara otomatis akan memberikan dorongan bagi mata uang Rupiah untuk mampu membukukan penguatan terlebih setelah mengalami gerak melemah di tengah positifnya sentimen yang melingkupi pada sesi perdagangan kemarin.