Indeks Wall Street hanya mampu menutup sesi perdagangan hari kedua pekan ini, Selasa (10/12) dengan gerak turun tipis.

Investor di bursa Wall Street terlihat gagal bertahan dengan sikap optimisnya dalam menantikan dua sentimen terkini yang sangat penting. Sentimen pertama dari keputusan bank sentral AS, The Fed yang hingga kini masih menggelar pertemuan para pimpinannya menyangkut besaran suku bunga acuan.

Sementara sentimen berikutnya datang ditunggu dari langkah Presiden AS Donald Trump terkait dengan rangkaian perundingan dagang dengan China, di mana pada 15 Desember mendatang dijadwalkan mulai efektifnya penaikkan tarif masuk atas produk China. Sementara perkembangan terkini dari perundingan dagang masih belum memperlihatkan kabar positif yang meyakinkan, penaikan tarif masuk yang akan berlaku beberapa hari kedepan  menjadi kekhawatiran pelaku pasar.

Investor akhirnya sulit untuk mempertahankan aksi tekanan beli, dan justru terpeleset dalam tekanan jual moderat. Gerak indeks akhirnya terpeleset turun tipis pada sesi perdagangan Selasa (10/12) yang baru berakhir beberapa jam lalu itu.

Indeks DJIA merosot tipis 0,1% untuk berakhir di 27.881,72, sementara indeks S&P 500 melemah 0,11% untuk terhenti di 3.132,52, serta indeks Nasdaq yang turun sangat tipis 0,07% untuk parkir di 8.616,18.  Dengan bekal keraguan yang mendera bursa saham Wall Street tersebut, sesi perdagangan pertengahan pekan ini di Asia, Rabu (11/12) diyakini akan kembali terjebak di rentang terbatas.

Hal yang tak jauh berbeda juga diperkirakan akan mendera indeks harga saham gabungan (IHSG) di Jakarta, di mana pada sesi perdagangan kemarin harus terjebak di rentang gerak sempit.