Langkah Menteri BUMN Erick Thohir itu tidak mempu mendongkrak saham Garuda Indonesia.

Agenda perombakan di internal manajemen Garuda Indonesia telah dilakukan. Bahkan, sejumlah nama telah disebut sebagai pengisi posisi Direktur Utama maskapai pelat merah itu. Sayangnya, langkah Menteri BUMN Erick Thohir itu tidak mempu mendongkrak saham Garuda Indonesia.

Beberapa nama yang mencuat belakangan ini adalah Mantan PT INTI Irfan Setiaputra hingga mantan Menteri ESDM yakni Ignasius Jonan. Namun ternyata, santernya nama-nama yang akan memegang kendali utama Garuda tak membuat pergerakan saham GIAA melaju ke zona hijau.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa 14 Januari 2020, saham GIAA mendarat pada zona merah dengan pelemahan sebesar 0,85 persen atau 4 poin menuju level Rp 468 per saham. Pada perdagangan 10 Januari dan 13 Januari 2020 lalu, GIAA sempat menghijau.

Saat itu, GIAA menguat 10 poin atau 2,19 persen ke level Rp 466 per saham pada 10 Januari 2020. Pada 13 Januari 2020, GIAA juga menguat 6 poin atau 1,29 persen ke level Rp 472 per saham.

Sementara itu, sepanjang tahun berjalan, saham GIAA masih mencatatkan return negatif sebesar 6,02 persen dengan nilai kapitalisasi pasar yang tercatat senilai Rp12,11 triliun.

Fahressi Fahalmesta, Analis Ciptadana Sekuritas Asia seperti dikutip bisnis.com menjelaskan bahwa pembenahan yang terjadi di dalam internal Garuda tidak memberikan efek yang terlalu besar terhadap pergerakan sahamnya. Sebab, pembenahan manajemen dinilai tidak memiliki dampak terhadap kinerja keuangan perseroan. Hal tersebut memiliki respons yang berbeda dibandingkan dengan kejadian laporan keuangan yang harus dilakukan pencatatan ulang.

“Tapi kalau menang ada masalah GCG mungkin akan ada ke impact ke discount harga sahamnya, jadi mungkin akan terkena impact,” katanya.

Kendati demikian, pembenahan GCG di internal Garuda yang dilakukan oleh Kementerian BUMN dinilai dapat membuat para pelaku pasar memiliki kepercayaan lebih ke depannya. “Jadi saya melihatnya saham Garuda ini di-drive-nya bukan karena perubahan direkturnya,” tutur Fahressi.