Cara pandang sempit, dangkal, dan bodoh Profesor Yudian seperti ini, kata Rizal Fadillah sangat berbahaya

Pemerhati Politik yang juga politikus Partai Amanat Nasional (PAN) HM Rizal Fadillah, SH., mengaku muak dengan Ketua Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi yang dilantik Presiden Joko Widodo (Jokowi), di Jakarta, Rabu, (05/02/2020).

Rasa muak tersebut diungkapkan Rizal Fadillah dalam tulisan ringkasnya yang dimuat di RMOL, Rabu (12/02/2020) dengan judul Pikiran Gila Yudian "Agama, Musuh Terbesar Pancasila".

Di awal tulisannya, Rizal Fadillah menyebut,  baru diangkat sebagai Ketua Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi, sudah mengeluarkan pandangan kontroversial, kotor, dan menyakiti umat beragama. 

"Pernyataan bahwa agama adalah musuh terbesar Pancasila adalah pernyataan gila dan mengaburkan sejarah," lanjut Rizal Fadillah dalam tulisannya tersebut.

Rizal Fadillah juga menilai bahwa pandangan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yudian Wahyudi tersebut tentang yang benar adalah sebagaimana masa Orde Baru, di mana Pancasila berlaku sebagai asas tunggal dan menyebutkan adanya asas pilihan seperti Islam maka "dari situlah Pancasila dibunuh secara administratif" sangat sembarangan dan dangkal. 

"Sembarangan dan dangkal sekali pandangannya itu. Asas agama Islam yang dicantumkan pada ormas atau orpol sama sekali tidak menafikan Pancasila, apalagi membunuhnya. Pencantuman Islam, Kristen, atau lainnya dalam Anggaran Dasar adalah untuk membedakan identitas ormas atau orpol tersebut. Tidak ada masalah konflik ideologi dengan pencantuman asas itu," lanjut Rizal Fadillah.

Cara pandang sempit, dangkal, dan bodoh Profesor Yudian seperti ini, kata Rizal Fadillah sangat berbahaya. 

"Apalagi sebagai Ketua Pembina Pancasila. Ada 3 bahaya utama, yaitu: Pertama, menahami Pancasila secara harfiah dan doktriner. jika ini dibiarkan maka akan terjadi pemberhalaan pada Pancasila. Kedua, membenturkan dengan agama adalah salah besar, karena kekuatan bangsa ada pada umat beragama ini. Jika agama dijadikan musuh maka yang hancur nantinya adalah Pancasila. Yudian menjadi penghianat Pancasila. Ketiga, sejarah Pancasila adalah akomodasi dari nilai-nilai agama. Pancasila tanpa agama adalah kegelapan. Tak ada masa depan yang cerah berada di ruang yang gelap," urai Rizal Fadillah. 

Menurut pandangan Rizal Fadillah, Yudian bukan saja sekular tetapi sudah komunis. 

"Hanya dua pilihan bagi dirinya yaitu tobat dan meluruskan pandangannya atau Presiden harus segera mencopot Yudian dari status sebagai Ketua BPIP. Orang ini tak pantas dan memuakkan," tegasnya.