Prospek Rupiah terlihat masih jauh dari rawan di tengah masih kelamnya sentimen persebaran wabah penyakit mematikan akibat infeksi Coronavirus.

Prospek nilai tukar mata uang Rupiah di pasar valuta, nampaknya masih harus bergulat dengan sentimen suram yang berkepanjangan dari China. Adalah persebaran wabah penyakit mematikan akibat infeksi Coronavirus yang berasal dari Kota Wuhan di China, di mana berdasar Laporan terkini masih memperlihatkan situasi yang mengganas.

Laporan terkini dari otoritas China sebelumnya menunjukkan jumlah korban tewas dan juga angka kasus infeksi yang justru semakin meroket hingga memantik kepanikan pelaku pasar bahwa ganasnya Coronavirus masih jauh dari akhir.

Namun laporan otoritas China tersebut dicoba untuk diredakan oleh   badan kesehatan dunia di bawah payung PBB, WHO  dengan menyatakan bahwa China telah merubah metodologi perhitungannya, sehingga sangat mungkin tambahan jumlah korban tersebut bukan hanya dalam periode satu hari.

Serangkaian sentimen tersebut tentu memberikan bekal buruk bagi Rupiah dalam menjalani sesi perdagangan akhir pekan ini, Jumat (14/2).  Namun kabar gembiranya, pola teknikal yang ada memperlihatkan masih kukuhnya Rupiah untukl bertahan di level terkuatnya sebagaimana tergambar dalam  garifk harian terkini berikut (yang diambil dari tradingview.com):

Tren pelemahan jangka menebgah yang terbentuk terlihat sangat rentan untuk segera berakhir. Rupiah bahkan cenderung untuk berada dalam fase ketiadaan tren dan bergerak konsolidatif  sejak sesi pertengahan Januari lalu.

Sentimen dari persebaran wabah Coronavirus memang telah dengan jelas menghentikan laju penguatan Rupiah, namun untuk berbalik meruntuhkan Rupiah terlihat masih terlalu sulit. Rupiah nampaknya sekedar terserang ‘demam’ oleh Coronavirus, dan jauh dari pingsan.