Lonjakan harga minyak dalam dua hari sesi perdagangan terakhir terlihat masih rentan untuk segera berbalik terkoreksi kembali dalam waktu dekat.

Sikap pelaku pasar terlihat semakin menantikan kepastian langkah dan kebijakan pemerintahan Rusia di bawah Presiden Vladimir Putin dalam mengabulkan usulan organisasi kartel minyak dunia OPEC.

Sebagaimana diwartakan sebelumnya, pihak OPEC yang sedang berupaya menggalang kerjasama pemangkasan produksi lebih dalam hingga 600.000 barel per hari guna meminimalisir rontoknya permintaan minyak akibat persebaran wabah Coronavirus. Pihak Rusia yang menjadi  salah satu negara produsen besar dan penting  minyak dunia diharapkan  untuk mengabulkan usulan pemangkasan produksi tersebut.

Kabar yang beredar di pasar menunjukkan, keyakinan investor bahwa Putin cenderung untuk merestui usulan OPEC tersebut, namun langkah dan kebijakan pasti masih dinantikan pelaku pasar.

Sementara kepastian langkah Rusia masih sedang sangat dinantikan, sejumlah analisis terkini memperlihatkan bahwa usulan pemangkasan produksi yang diajukan OPEC masih belum memadai dibanding ancaman  keruntuhan permintaan minyak dunia akibat mandeknya kinerja perekonomian China oleh wabah Coronavirus.

Gerak naik harga minyak akhirnya hanya berlangsung dalam taraf terbatas dalam sesi perdagangan Kamis (13/2) yang berakhir beberapa jam lalu itu. Gerak turun  tipis bahkan  terjadi hingga sesi perdagangan pagi ini di Asia, Jumat (14/2), di mana harga minyak untuk jenis WTI bertengger di kisaran $51,41 per barel.

Sementara tinjauan teknikal sebelumnya menunjukkan, tren jual jangka menengah yang masih belum terganggu akibat  rentetan gerak naik dalam beberapa hari sesi perdagangan terakhir. Hal ini mengindikasikan, kerawanan harga minyak dunia untuk menurun lebih lanjut dalam beberapa hari sesi perdagangan ke depan. Situasi demikian, tentu akan menjadi ruang yang menguntungkan bagi Pertamina yang melibatkan Ahok (Basuki Tjahaya Purnama) dalam jajaran kepemimpinannya untuk menurunkan harga BBM.