Tren jual jangka menengah saham PTBA terlihat di ambang akhir, namun sentimen Coronavirus masih rawan menghadirkan ancaman.

Riuh perdebatan dan polemik untuk merayakan hari kasih sayang atau sering disebut Valentine, nampaknya tak kunjung usai hingga hari ini.  Keraguan seakan sulit dihindarkan dalam merayakan hari yang populer di kalangan milenial tersebut.

Namun keraguan yang mulai biasa terjadi dalam beberapa tahun terakhir tersebut terlihat tak sebatas pada kalangan milenial. Para pelaku pasar di bursa efek Indonesia juga sepertinya masih berada dalam keraguan untuk berbahagia dalam merayakan hari kasih sayang kali ini. Terlebih bagi pemegang saham perusahaan tambang Batubara yang terkemuka dengan kinerja paling moncer, PT Bukit Asam Tbk.

Saham yang diperdagangkan dengan kode PTBA tersebut terscatat masih sekedar berupaya untuk mengakhiri tren jual jangka menengah yang suram. Grafik harian terkini berikut memperlihatkan pola teknikal yang agak menggembirakan, di mana tren jual jangka menengah berpeluang untuk segera berakhir:

Indikator  MA-Signal (garis berwarna hitam) terlihat telah mulai mendongak untuk segera menembus  batas teknikal psikologisnya (garis berwarna merah). Bila harga saham PTBA mampu bergerak konsisten di atas kisaran Rp2.330 per lembarnya dalam kurun 7 hari sesi perdagangan, maka tren jual jangka menengah sudah berakhir untuk memasuki fase ketiadaan tren.

Situasi ini tentu menggembirakan bagi pemegang saham PTBA. Namun persoalan kini masih menghadang, terutama dari sentimen persebaran wabah Coronavirus yang masih jauh dari reda dan mengancam runtuhnya harga minyak dunia untuk kemudian menyeret harga batubara dan sekaligus menjadi ancaman serius bagi harga saham PTBA.

Perayaan Valentine kali ini, bagi pemegang saham PTBA  nampaknya benar-benar dilatari oleh keraguan untuk berbahagia.

Happy Trading.