Ada banyak versi cerita tentang siapa dan bagaimana pendirian klenteng Tjoe Hwie Kiong

 Klenteng Tjoe Hwie Kiong adalah salah satu bangunan yang dilindungi di Kota Kediri. Selain memiliki usia yang cukup tua, bangunan yang menjadi tempat ibadah etnis Tionghoa ini juga mengandung nilai historis. Makanya klenteng tersebut masuk dalam cagar budaya Jawa Timur.

Ada banyak versi cerita tentang siapa dan bagaimana pendirian klenteng Tjoe Hwie Kiong ini. Bahkan pengurus klenteng pun hingga kini tak bisa memastikan siapa pendiri sebenarnya. “Klenteng ini berdiri sekitar tahun 1817, tetapi kita tidak tahu siapa nama pendirinya karena usianya sudah lebih dari 200 tahun,” kata Prayitno Sutikno, Ketua umum Yayasan Tri Dharma Klenteng Tjoe Hwie Kiong kepada Jatimplus.ID, Rabu 12 Februari 2020.

Berdasarkan cerita yang dirunut para sesepuh, hanya diketahui bahwa pada zaman dahulu kala terdapat seorang musafir asal Tiongkok yang mampir ke Kota Kediri. Musafir ini datang melalui jalur air dan melintas di Sungai Brantas yang dulunya masuk dalam jalur perdagangan.

“Saat itu kondisi di China sedang tidak baik. Ada banyak perang saudara, perekonomian seret. Makanya banyak yang kemudian bermigrasi ke luar wilayah demi memperbaiki taraf hidup,” terang Prayitno.

Di tengah pengembaraannya tersebut, sang musafir yang juga seorang pedagang ini mendarat di sekitar Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Pakelan, Kota Kediri. Sesaat setelah menginjakkan kaki di daratan, musafir ini langsung mendirikan tempat sederhana untuk berdoa.

Sudah menjadi kebiasaan para Perantau Cina untuk selalu membawa dewa mereka saat bepergian. Begitu pula dengan musafir tersebut. Kala itu dia membawa Dewi Laut atau Thian Sang Sing Bo, dan meletakkannya di tempat ia berdoa di sisi Sungai Brantas. “Makanya Klenteng Tjoe Hwie Kiong ini berada tepat di sisi timur Sungai Brantas,” kata Prayitno.

Lambat laun banyak rekan-rekan perantauan Cina yang ikut berdoa di tempat Dewi Thian Sang Sing Bo berada. Mereka membawa dewa masing-masing. Sehingga kini ada banyak dewa-dewi yang ada di Klenteng Tjoe Hwie Kiong. Mulai dari Dewi Kwan Im, Dewa Kwan Kong hingga para nabi agung.

Sebagai tuan rumah, altar Dewi Thian Sang Sing Bo berada di tengah bangunan utama. Patung sengaja menghadap ke arah Sungai Brantas, tempat dia masuk. Sedangkan dewa-dewa lainnya berada di sisi lain dari klenteng. Patung tiga nabi agung sendiri ada di sisi kanan bangunan utama. Posisinya sejajar.

Di sisi kiri terdapat patung Lao Tze dengan simbol yin-yang yang digunakan penganut ajaran Tao berdoa. Sedangkan di tengah terdapat patung Budha Sakyamuni dengan simbol swastika untuk penganut Budha. Sementara sisi paling kanan terdapat patung Kong Hu Cu dengan simbol genta untuk penganut Kong Hu Cu.

Keberadaan Tri Dharma inilah yang menjadi ikon Klenteng Tjoe Hwie Kiong sebagai tempat yang menjunjung tinggi keberagaman. Pemeluk agama apapun boleh berdoa di sana bersama-sama. “Siapapun bisa berdoa di sini. Mau ke altar mana saja silahkan sesuai kebutuhan. Tidak ada aturan khusus tentang urutan prosesi doa,” kata Sri Sulanjari, mantan juru kunci Klenteng Tjoe Hwie Kiong.

Meski demikian, biasanya pengunjung klenteng mulai berdoa sejak dari pintu masuk altar. Di sana disediakan hiolo, yakni tempat untuk menancapkan hio yang terbuat dari kuningan. Jemaat kemudian bergeser ke dalam untuk berdoa ke para arwah suci atau Chung Sien Bing.

Menurut Sri, pengunjung yang akan bepergian biasanya berdoa ke Dewa Thian Sang Sing Bo. Dewa ini dipercaya bisa memberikan keselamatan selama dalam perjalanan. Sedangkan yang ingin bisnisnya lancar, berdoa kepada Dewa Kwan Kong yang juga dikenal sebagai Dewa Kesetiaan. “Bisnisnya lancar, tidak ditipu klien, dan konsumennya loyal,” kata Sri menjelaskan “khasiat” dewa mereka.

Tidak hanya tentang urutan berdoa saja yang dibebaskan. Pengunjung juga bebas memberikan persembahan. Karena yang terpenting adalah kerelaan dalam memberikan persembahan.

Adapun persembahan yang kerap dibawa para jemaat antara lain buah apel yang diartikan sebagai buah keselamatan, buah pir yang berarti kelancaran, dan buah jeruk yang artinya kemuliaan. “Apapun boleh. Bahkan air putih pun tidak masalah karena yang terpenting adalah kerelaan,” kata Sri.

Bangunan klenteng sendiri menurut Sri, tidak pernah diubah bentuknya. Pengurus hanya beberapa kali melakukan renovasi agar bangunan tetap terjaga kekuatannya. Salah satunya dengan memasang keramik di dinding-dinding klenteng. “Daerah sini (Kelurahan Pakelan) kan dulu sering banjir. Dinding-dindingnya jadi sering terendam air sehingga lumutan. Ini dikeramik agar dinding menjadi lebih baik,” jelas Sri.

Kini Klenteng Tjoe Hwie Kiong tidak hanya dipadati oleh warga Tionghoa untuk berdoa. Ada banyak pengunjung dari masyarakat umum dengan berbagai latar belakang agama bertandang ke sana. Bukan untuk berdoa, tetapi belajar tentang budaya dan sejarah.