Gus Dur dilengserkan pada 2001 silam karena masalah politik di tingkat elite yang turut melibatkan Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Umum PDIP.

Pernyataan Sekretaris Kabinet Pramono Anung yang menyebut Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) karena mitos Kediri dibantah Adhie Massardi. Mantan juru bicara Gus Dur itu menyebut kejatuhan Gus Dur dari kursi kepresidenan adalah murni politik.

Pernyataan Pramono yang juga politikus PDIP itu bisa dikategorikan sebagai upaya memanipulasi opini publik. 

"Ketika menyebut Gus Dur dilengserkan (setelah berkunjung) dari Kediri, itu termasuk bagian memanipulasi opini publik," kata Adhie, Senin (17/2).

Adhie seperti diberitakan CNNIndonesia.com mengaku tak soal bila Pramono mempercayai mitos bahwa seorang Presiden akan lengser jika mengunjungi Kota Kediri, Jawa Timur. Namun, ia tak terima jika mitos tersebut dikaitkan dengan pelengseran Gus Dur. 

Gus Dur, menurut Adhie, dilengserkan pada 2001 silam karena masalah politik di tingkat elite yang turut melibatkan Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Umum PDI Perjuangan.

Status PDI Perjuangan saat itu adalah partai pemenang pemilu. Peran PDI Perjuangan dalam pelengseran Gus Dur terletak dari sikap politik mendukung Sidang Istimewa MPR. 

"Secara khusus Megawati (Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri) dan PDIP," ujar Adhie.

"Kalau Megawati tidak mendorong PDIP agar mendukung SI (Sidang Istimewa), itu tidak akan terjadi. PDIP waktu itu merupakan mayoritas di DPR. Dalam konteks itu lah saya menyebut persoalannya dengan Megawati," jelas Adhie.

Pernyataan Pramono soal mitos Kediri yang memantik polemik itu, diucapkan saat berpidato di hadapan kiai pengasuh Pondok Pesantren Hidasyatul Mibtadien Lirboyo, Kediri, Sabtu (15/2) lalu.

Dalam pidatonya Pramono mengaku jadi salah satu orang yang melarang Presiden Joko Widodo berkunjung ke Kediri. Pramono mengaitkan larangannya itu dengan peristiwa yang dialami Presiden Gus Dur, 2003 silam.

Pramono berkata Gus Dur lengser dari Presiden usai bertandang ke Kediri. Dia tak ingin Jokowi senasib dengan Gus Dur.

"Ngapunten kiai, saya termasuk orang yang melarang Pak Presiden untuk berkunjung di Kediri," ucap Pramono.

"Saya masih ingat, karena percaya atau tidak percaya, Gus Dur setelah berkunjung ke Lirboyo tidak begitu lama gonjang ganjing di Jakarta," tambah Pramono.

Ucapan Pramono itu juga direspons Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief. Ia menduga ada pesan mendalam dari pernyataan Pramono.

Lewat akun Twitter pribadinya, Andi meyakini tak ada kaitan antara Kediri dengan mitos lunturnya kekuasaan bagi penguasa. Apalagi, Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dua kali mengunjungi Kediri selama dua periode sebagai Presiden.

"Tahun 2007 SBY mengunjungi Kediri. Kunjungan kedua di tahun 2014. Pak Pramono Anung sangat mengerti bahwa tidak ada hubungan Kediri dengan pudarnya kekuasaan Pak Jokowi," ujar Andi.

Berkaca dari hal tersebut, Andi menyebut pernyataan Pramono itu lebih menggambarkan pesan bahwa kekuasaan Jokowi saat ini sedang dalam berbagai tekanan.