Rupiah akhirnya tergelincir lebih rendah dari kisaran Rp14.000 per Dolar AS.

Sesi perdagangan hari keempat pekan ini di bursa efek Indeosnia akhirnya menjadi salah satu yang paling suram dengan keruntuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam taraf yang sangat mencolok.  Kepungan sentimen persebaran wabah penyakit akibat infeksi Coronavirus masih menjadi latar utama rontoknya IHSG kali ini.

Laporan sebelumnya menyebutkan, pesebaran wabah asal China yang semakin meluas dan ditakutkan semakin mengganggu kinerja pertumbuhan ekonomi global.  Sikap investor akhirnya secara sempurna berada dalam pesimisme untuk menjungkalkan kembali indeks dalam rentang tajam.

Hingga sesi perdagangan sore ini ditutup, indeks Nikkei (Jepang) tercatat merosot tajam 2,13% untuk berakhir di 21.948,23, sementara indeks Hang Seng (Hong Kong) naik 0,31% untuk menutup sesi di 26.778,62.

Gerak turun  mendera indeks ASX 200 (Australia) yang tertebas 0,75% untuk menetap di 6.657,9 serta indeks KOSPI (Korea Selatan) yang beralih merah dengan terkoreksi 1,05% di 2.054,89.

Kepungan sentimen suram  dari bursa  saham utama Asia tersebut kemudian semakin mengukuhkan pesmisme pelaku pasar di Jakarta untuk menyungkurkan IHSG dalam rentang paling curam. IHSG akhirnya menutup sesi hari ini dengan ambruk 2,69% untuk  singgah di posisi 5.535,69.

Kinerja suram juga kembali dibukukan nilai tukar mata uang Rupiah, di mana hingga sore ini tercatat diperdagangkan di kisaran Rp14.020 per Dolar AS setelah tertebas 1,15%.  Sentimen terkini dari Coronavirus kembali melonjakkan posisi indeks Dolar AS dan sekaligus mengurung mata uang Asia dalam kemerosotan.  Rupiah akhirnya turut tertebas untuk kini sekaligus menembus level psikologis pentingnya di kisaran Rp14.000 per Dolar AS.