Saham GIAA tercatat sempat mencetak titik termurahnya di kisaran Rp212 per lembar pada sesi perdagangan akhir pekan kemarin, Jumat (13/3).

Sentimen kejutan dari langkah keras Presiden AS Donald Trump akhirnya merambah hingga bursa saham Indonesia di sesi akhir pekan kemarin, Jumat (13/3). Dan salah satu saham yang acap disorot di Indonesia kali ini benar-benar turut terimbas oleh kejutan Trump yang keras dengan melarang penerbangan dari kawasan  Eropa ke AS guna membatasi risiko persebaran wabah Coronavirus.

Adalah saham milik perusahaan maskapai penerbangan Garuda Indonesia Airways Tbk., yangkali ini turut menanggung beban suram sentimen Trump tersebut. Saham perusahaan BUMN terpandang yang diperdagangkan dengan kode GIAA tersebut kembali rontok curam di sesi akhir pekan hingga sempat mencetak harga termurahnya di kisaran Rp212 per lembarnya.

Kabar sedikit menghibur terjadi ketika saham GIAA berhasil mengikis penurunan untuk menutup sesi di Rp222 atau terpangkas 1,77%. Namun pola teknikal saham GIAA justru masih memperlihatkan prospek sangat suram sebagaimana tersaji dalam grafik harian terkini berikut:

Tren jual jangka menengah terlihat masih sangat solid hingga kini. Grafik di atas dengan terang menunjukkan, indikator MA-Signal (garis berwarna hitam) yang masih sangat renggang menjaga jarak dari batas teknikal psikologisnya (garis berwarna merah) yang mencerminkan masih sangat besarnya potensi tekanan jual.

Gerak turun lebih jauh di beberapa hari sesi perdagangan ke depan, oleh karenanya masih sangat mungkin, dan oleh karenanya Yenny Wahid (Putri mantan Presiden RI., Gus Dur) yang kini masuk dalam jajaran komisaris di PT Garuda bisa dipusingkan.

Sentimen Coronavirus, diyakini masih akan menjadi tantangan serius bagi saham GIAA, namun sentimen kejut dari Trump juga bisa menambah rasa pedih prospek saham GIAA untuk semakin berpotensi  membuat pening Putri Gus Dur.  

Happy Trading.