Harga minyak untuk jenis WTI tercatat bertengger di kisaran $24,49 per barel usai melonjak tajam 2%.

Sesi perdagangan pertengaha pekan ini terlihat masih didominasi oleh sikap optimis  yang tumbuh dari paket stimulus pemerintahan Presiden Donald Trump yang masih membutuhkan proses dan waktu untuk mendapatkan persetujuan dari Senat.

Seperti diwartakan sebelumnya, pemerintahan Trump yang mengajukan  stimulus hingga senilai $2 triliun guna menanggulangi imbas pukulan wabah Coronavirus terhadap kinerja perekonomian AS.  Namun hingga kini pihak Senat AS masih terjebak dalam sejumlah perbedaan untuk meloloskan paket usulan Trump tersebut.

Meski demikian sikap optimis masih mampu bertahan di pasar minyak dunia, dengan investor terus melakukan aksi akumulasi untuk melonjakkan harga lebih jauh. Catatan menunjukkan, harga minyak jenis WTI yang melompat cukup tajam 2% untuk bertengger di kisaran $24,49 per barel beberapa jam lalu.

Gerak naik tajam harga minyak ini secara sekilas tentu akan sedikit mengganggu ekspektasi penurunan harga BBM oleh Pertamina yang kini melibatkan Ahok (Basuki Tjahaya Purnama) sebagai Komisaris Utamanya.

Namun sebagaimana dimuat dalam tinjauan teknikal sebelumnya, dalam jangka menengah gerak naik harga minyak kali ini hanya menghadirkan sedikit gangguan bagi pola teknikal yang masih berada dalam  tren jual jangka menengah yang sangat solid.

Solidnya tren jual jangka menengah tersebut sekaligus menandakan bahwa gerak turun harga minyak dunia masih cukup terbuka lebar di beberapa hari sesi perdagangan ke depan sebagaimana terlihat pada grafik berikut: