Investor melakukan tekanan jual intens di sesi akhir pekan ini hingga menggelincirkan harga minyak cukup curam sebesar 3,36%.

Sesi perdagangan yang liar dan panik kembali mewarnai pasar minyak dunia di penutupan pekan ini, Jumat (27/3). Dalam sesi perdagangan yang berakhir beberapa jam lalu itu, harga minyak untuk jenis WTI tercatat ambruk hingga 3,36% untuk terhenti di kisaran $21,84 per barel.

Laporan  menyebutkan, sentimen dari ancaman persebaran wabah Coronavirus yang masih menjadi perhatian investir untuk melakukan tekanan jual intens dalam menutup pekan ini. Sementara sentimen dari paket stimulus pemerintahan Donald Trump yang senilai $2 triliun  terlihat masih belum sempat direspon.

Catatan terkini dari otoritas AS menunjukkan, besaran kasus infeksi Coronavirus di AS yang kini telah mencapai kisaran 90.000 atau telah jauh melampaui angka kasus infeksi yang terjadi di China sebagaimana diumumkan oleh pemerintahan otoriter China.

Situsi tersebut kemudian mengembalikan aksi jual panik investor yang meyakini permintaan minyak akan terganggu serius.  Tekanan jual akhirnya kembali mendera untuk kembali mengancam harga minyak tergelincir di bawah level psikologisnya di kisaran $20 per barel.

Sementara dalam tinjauan teknikal terkini, gerak turun curam di sesi akhir pekan kali ini justru semakin memperpanjang masa solidnya tren jual jangka menengah. Situasi teknikal demikian  dengan sendirinya membuka lebar peluang bagi harga minyak untuk terus mengalami tekanan jual dalam beberapa hari dan bahkan pekan sesi perdagangan mendatang.