Tekanan jual terlihat mulai menderas di bursa saham utama Asia pagi ini, Senin (30/3).

Sesi perdagangan awal pekan ini, Senin (30/3) di Asia terlihat sedang dilingkupisentimen yang cukup rawan dengan masih bertahannya kerewsahan investor akan wabah Coronavirus. Di tengah sejumlah temuan yang menggembirakan menyangkut teknologi pengobatan, serangkaian kabar suram lain masih hinggap.

Laporan terkini menyebutkan, angka kasus infeksi Coronavirus yang  telah menembus kisaran 700.000 secara global, sementara di sisi lainnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa pemerintahannya kini sedang berupaya sangat keras untuk mencegah jumlah korban tewas akibat Coronavirus agar tetap di bawah proyeksi sebesar 100.000 jiwa.

Langkah shutdown akhirnya diperpanjang di Amerika Serikat, di mana menjadikan pelaku pasar kembali jatuh dalam pesimisme untuk menghadirkan tekanan jual. Laporan menunjukkan, di sesi perdagangan berjangka indeks Wall Street yang telah diperdagangkan runtuh hingga lebih dari 1% pada pagi ini di Asia.

Investor di Asia akhirnya turut terseret dalam pesimisme awal pekan ini. Hingga ulasan ini disunting, indeks Nikkei (Jepang) tercatat runtuh curam 3,61% untuk menjejak kisaran 18.689,43, sementara indeks  ASX 200 (Australia) melonjak 1,26% untuk berada di posisi 4.903,6, dan indeks KOSPI (Korea Selatan) yang merosot 3,19% untuk menyisir kisaran 1.662,98.

Dengan bekal kepungan sentimen yang kurang menguntungkan ini, sesi perdagangan saham di Jakarta diperkirakan akan kembali terseret dalam zona merah dalam membuka sesi pekan ini.