Oleh karenanya, ia berharap fenomena nasi anjing yang sempat menjadi viral tersebut tak diperpanjang hingga berujung polemik di masyarakat

Saat ini, pemerintah dan masyarakat tengah berjibaku berperang melawan wabah Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19. Selain menjadi relawan, ada saja para dermawan yang bersedia merogoh kocek untuk sekedar memberi makan bagi masyarakat terdampak COVID-19 akibat pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh pemerintah.

Sayangnya, ada saja hal-hal di liar kewajaran yang akhirnya menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Salah satunya yang baru saja terjadi, yakni aksi kemanusiaan berupa bagi-bagi nasi bungkus yang bertuliskan nasi anjing di Warakas, Jakarta Timur.

Aksi tersebut sangat disayangkan politisi Partai Demokrasi Indonesia  Perjuangan PDIP, Arteria Dahlan. Apa lagi, 'Nasi Anjing' tersebut dilakukan dengan alasan sifat anjing yang setia kepada tuannya serta pemilihan diksi semata-mata menghindari unsur pelecehaan. 

"Saya sangat menyayangkan, karena ini sangat tidak sensitif, apalagi dalam konteks pemberian bantuan dalam bentuk makanan yang untuk dikonsumsi masyarakat," kata Arteria Dahlan dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Senin (27/04/2020). 

Menurut anggota Komisi III DPR RI ini, penamaan nasi anjing akan menjadi persoalan besar lantaran diksi tersebut tak lazim digunakan sebagai penamaan makanan. 

"Diksi 'anjing' itu secara langsung diasosiasikan sebagai sesuatu yang tidak lazim, bahkan diharamkan untuk dimakan. Pelabelan nasi anjing secara sederhana diartikan sebagai makanan yang tidak patut atau haram untuk dikonsumsi," tegasnya. 

"Sehingga konteksnya tidak lagi pada content apakah pembuatan nasi dilakukan dengan bahan halal apa tidak, tapi lebih pada ketidakpatutan pemberian label pada bantuan makanan yang hendak diberikan dan dimakan oleh masyarakat," sambungnya. 

Oleh karenanya, ia berharap fenomena nasi anjing yang sempat menjadi viral tersebut tak diperpanjang hingga berujung polemik di masyarakat. 

"Ini harus menjadi pembelajaran bagi para donatur yang hendak memberikan bantuan. Membantu tidak sekadar memberi bantuan, namun cara, etika dan kepatutan pun harus diperhatikan. Lakukan klarifikasi dengan baik tanpa perlu memberikan justifikasi," tegas Asteria Dahlan.