Dia juga menilai bahwa physical distancing dalam rangka Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan pemerintah adalah langkah yang baik secara public health

Sejak Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 melanda dunia, nama Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP., pun pelan-pelan mencuat. Mantan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah merupakan orang pertama yang mengingatkan masyarakat Indonesia akan keberadaan mantan Menteri Kesehatan era Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Melalui akun twitternya pada Rabu (17/3/2020), Fahri Hamzah meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto membebaskan Siti Fadilah Supari dari penjara.

"Yang terhormat pak @jokowi dan pak @prabowo, ini waktunya bapak membebaskan ibu Siti Fadhilah Supari, seorang jenius Indonesia yang menjadi korban konspirasi jahat," cuit Fahri Hamzah.

Fahri Hamzah juga menambahkan, "Saat ini pemerintah memerlukan pandangan lain tentang virus dan vaksin, bebaskanlah ibu Siti fadilah. Dialah teman bicara yang sebenarnya. Dia yang bisa melihat peristiwa ini dalam kepentingan nasional." 

Untuk diketahui, pada tahun 2015, Siti Fadilah Supari terlibat kasus korupsi pengadaan alat-alat kesehatan. Menurut Fahri Hamzah, Siti Fadilah Supari menjadi korban karena membokar konspirasi WHO dan Amerika Serikat (AS) melalui sebuah buku berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung.

"Pada tanggal 6 Januari 2008, Siti Fadilah merilis buku 'Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung' yang berisi mengenai konspirasi Amerika Serikat dan WHO dalam mengembangkan 'senjata biologis' dengan menggunakan virus flu burung," tulis pimpinan Partai Gelora Indonesia itu.

Tak ayal, buku tersebut menuai protes dari petinggi-petinggi WHO dan Amerika Serikat.

Tak hanya Fahri Hamzah, Lembaga kegawatdaruratan medis dan kebencanaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) juga turut mendesak Pemerintah Indonesia untuk segera membebaskan Siti Fadilah Supari. Desakan tersebut karena pengalamannya dalam menghadapi virus flu burung di Indonesia tahun 2005 sangat baik.

Presidium MER-C Yogi Prabowo mengatakan, mantan menkes Siti Fadilah berhasil membuka wawasan bagi negara-negara lain di dunia dalam penanganan virus. Karena itu, sudah selayaknya bangsa Indonesia membebaskan Siti Fadilah Supari untuk membantu menghadapi pandemi COVID-19 yang masih banyak menyimpan berbagai misteri.

"Selain itu, ada pertimbangan kemanusiaan yang kritis mengingat usianya yang sudah memasuki 70 tahun, geriatrik, dan mempunyai penyakit kronis. Dengan kondisi rumah tahanan dan usia geriatrik sehingga Siti (mantan menkes) rentan terkena COVID-19," kata Yogi pada salah satu media nasional, Selasa (07/04/2020).

Petisi Janggal Bebaskan Siti Fadilah Supari

Ia mengingatkan, memenjarakan Siti Fadilah bisa menimbulkan pelanggaran kemanusiaan tentang elder abuse, yaitu memperlakukan kelompok usia geriatrik tidak sebagaimana mestinya dan menimbulkan risiko, apalagi di tengah pandemi Covid-19. Menurut dia, Siti sosok wanita yang cerdas, sigap, dan berani.

Sampai saat ini mantan menkes itu masih mendekam di penjara Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur, karena divonis empat tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta pada 16 Juni 2017. Kasusnya dugaan korupsi alat kesehatan di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang pernah dipimpinnya.

"Sebuah dakwaan yang tidak pernah diakuinya meski di usianya yang sudah senja dengan berbagai penyakit yang mendera, namun vonis dijalaninya dengan sabar di penjara," ujarnya.

Menurut Yogi, di tengah merebaknya wabah COVID-19 yang penuh misteri, sepak terjang wanita kelahiran 6 November 1949 ini kembali dibutuhkan, mengingat bagaimana sigap dan beraninya Siti sebagai menkes saat itu mengatasi politik pandemi flu burung dan membongkar ketidakadilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun Amerika Serikat (AS) terkait virus tersebut.

Bahkan, kala itu MER-C juga menyatakan dukungannya terhadap keputusan menkes untuk menutup lembaga penelitian AS di Indonesia, yaitu Namru 2. Keahlian dan integritasnya kembali diuji dalam menghadapi pandemi flu babi. Sikap kritis Siti mendapat apresiasi dari berbagai negara lainnya dan dianggap menyelamatkan dunia dari bahaya konspirasi virus dunia.

"Satu hal yang menjadi prioritasnya adalah kesehatan rakyat. Dia sadar betul bagaimana kesehatan adalah isu yang sangat penting dan berkaitan erat dengan ketahanan nasional suatu bangsa. Inilah yang ia (Siti) jaga selama diamanahi tanggung jawab sebagai menkes," katanya.

Presidium MER-C ini menegaskan, atas dasar pertimbangan kemanusiaan dan kontribusinya yang bisa diberikan bagi bangsa ini, MER-C mendesak Pemerintah Indonesia untuk dapat segera membebaskan Siti. "Kami berharap di luar penjara, Ibu Siti Fadilah Supari bisa turut menyumbangkan pemikiran dan keahliannya dalam mengatasi wabah virus corona yang tengah mengancam negeri kita tercinta Indonesia di mana angka kasus terus bertambah dari hari ke hari dan korban meninggal terus berjatuhan, termasuk tenaga kesehatan," ujarnya.

Yogi menegaskan, sebelum semuanya terlambat dan kasus Covid-19 makin meluas, MER-C berharap semua potensi yang dimiliki bangsa ini, termasuk potensi putra-putri terbaik bangsa yang mempunyai keahlian di bidang terkait, segera dilibatkan supaya bisa bersama-sama bergerak menghadapi dan mengatasi wabah ini. "Setelah ikhtiar maksimal, semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, melindungi bangsa ini dan semoga wabah ini dapat segera hilang dari bumi Indonesia," kata Yogi.

Selain pernah menjabat Menteri Kesehatan, sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 25 Januari 2010, Siti Fadilah Supari adalah juga seorang dosen dan ahli jantung.

Dia dilantik menjadi Menteri pada 21 Oktober 2004. Dia merupakan salah seorang dari empat perempuan yang menjabat sebagai menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu SBY-JK, selain Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta.

Siti Fadilah Supari juga bekerja sebagai staf pengajar kardiologi Universitas Indonesia. Siti merupakan ahli jantung di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita selama 25 tahun.

Flu Burung dan Buku Kontroversial 

Pada tahun 2007, dia menulis buku berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung konspirasi Amerika Serikat dan organisasi WHO dalam mengembangkan senjata biologis dengan menggunakan virus flu burung. Buku ini menuai protes dari petinggi WHO dan Amerika Serikat.

Pada 1987, Siti menerima The Best Investigator Award Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Best Young Investigator Award dalam Kongres Kardiologi di Manila, Filipina (1988). Dia menerima The Best Investigator Award Konferensi Ilmiah tentang Omega 3 di Texas Amerika Serikat (1994) dan Anthony Mason Award dari Universitas South Wales (1997). Dia juga menerima beberapa penghargaan dari Amerika dan Australia. Tak kurang dari 150 karya ilmiahnya telah diterbitkan dalam jurnal lokal, regional, dan internasional.

Namun jebolan S-1, Fakultas Kedokteran Universitas Gajahmada (FK-UGM), Yogyakarta, (1976), S-2, Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI), Jakarta, (1987), dan S-3, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI), Jakarta, (1996) ini tersandung kasus dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan (alkes) di Departemen Kesehatan. Meski demikian, dia membantah telah mengubah alokasi anggaran proyek flu burung senilai Rp80 miliar menjadi proyek pengadaan alkes pada 2007.

Tentang sorotan internasional pada diri Siti Fadilah Supari atas penggalangan dukungan negara-negara lain untuk menggugat WHO terkait penanganan wabah flu burung H5N1 pada 2005, diketahui bahwa Siti Fadilah Supari sudah menunjukkan perlawanannya. Caranya, dia tidak mengirimkan spesimen virus yang diminta WHO. 

Siti Fadilah Supari tidak terima penanganan wabah harus mengikuti standar Global Influenza Surveillance Network (GSIN) karena tidak transparan dan berisiko dijadikan sebagai komoditas monopoli perdagangan vaksin. 

Terlepas dari polemik yang terjadi, Siti Fadilah Supari mendapat pengakuan dari dunia. Majalah The Economist di London, misalnya, menempatkan Siti Fadilah Supari sebagai tokoh yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak penyakit pandemik. 

“Menteri Kesehatan Indonesia itu, telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini, dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yakni transparansi,” tulis The Economist, 10 Agustus 2006. 

Selepas masa jabatan sebagai menteri kesehatan, Siti Fadilah Supari dijerat kasus oleh KPK dalam perkara dugaan korupsi pengadaan alkes di kementerian yang dia pimpin. Ditetapkan sebagai tersangka pada 2014, Siti baru masuk persidangan 2017 dan dijatuhi vonis 4 tahun penjara pada tahun yang sama. 

Belakangan publik menggulirkan petisi agar Presiden Joko Widodo segera membebaskan Siti Fadilah Supari karena sosoknya dibutuhkan negara dalam menghadapi wabah COVID-19 yang telah melumpuhkan dunia. 

Kejanggalan sempat terjadi dalam upaya penggalangan petisi tersebut. Pada Kamis 16 April, petisi tersebut diberitakan tercatat sudah mendapatkan 42 ribu tanda tangan dari para warganet dan terus bergerak menuju angka 50 ribu. Namun pada Sabtu, 18 April 2020, tanda tangan di petisi tersebut tiba-tiba turun drastis menjadi 15 ribuan. 

Siti Fadilah Supari  yang kini masih mendekam di Rutan Pondok Bambu, mewanti-wanti pemerintah agar tidak terbelenggu dengan tekanan dunia dalam menghadapi pandemi COVID-19. Dia berharap pemerintah bisa lebih tangguh serta mandiri dalam menuntaskan wabah corona, dan dia pun yakin negara bisa menghadapinya. 

Kepada salah satu media Siti Fadilah Supari mengungkapkan pemikirannya tentang fenomena yang saat ini terjadi di dunia. Siti Fadilah Supari menyebut, dia sudah menduga bahwa pandemik akan terjadi setelah pandemik avian flu atau flu burung H5N1. 

Karena kata Siti Fadilah Supari, dalam pandemik Flu Burung dia berhasil menyimpulkan berdasarkan data-data valid bahwa ada konspirasi di balik pandemik Flu Burung. "Selama dua faktor (WHO dan AS -red) itu masih merajai, maka pandemik tetap akan terjadi. 

Siti Fadilah Supari juga menjelaskan, mengingat pandemik flu yang mematikan banyak orang pada 1918, virus mudah menginfeksi manusia dan punya kemampuan menyebar atau menular. 

"Maka lembaga resmi dunia WHO dengan GISN-nya waktu itu melalui laboratorium CDC Atlanta meneliti virus flu dengan segala variannya sepanjang masa," jelasnya. 

Tentang perbedaan situasi politik kesehatan dunia saat ini dengan masa wabah flu burung saat dirinya menjabat sebagai Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari menilai banyak perbedaan. Dulu, jelasnya, WHA (World Health Assembly) sangat berperan dalam keputusan WHO. Sekarang, lanjut dia, banyak organisasi kesehatan dunia yang lebih dominan. 

"Dan tak pelak lagi organisasi-organisasi itu pasti memerlukan dana yang saya tidak tahu dari mana asalnya. Dan ternyata organisasi tersebut tidak ada gunanya ketika terjadi pandemi seperti ini. Dulu WHO harus konsisten dengan aturan yang ada di IHR (Regulasi Kesehatan Dunia) 2005. Kami bisa protes kalau itu dilanggar. Sekarang IHR itu diubah tidak seperti dulu sehingga penetapan pandemik tidak transparan," urainya.

Saat ini pandemi COVID-19 terkesan tidak terkendali dan berujung pada penyebaran masif hingga melumpuhkan dunia. Karenanya, Siti Fadilah Supari mengungkapkan keheranannya bahwa China diam ketika ditetapkan sebagai PHEIC (Public Health Emergency of International Concern). 

"Apakah betul virus berasal dari kelelawar yang menular ke manusia, dan kemudian menular dari manusia ke manusia. Baru sekarang dunia protes bahwa mereka dianggap tidak transparan. Kalau virus tidak segera ditransparansikan maka bahayanya ya seperti sekarang. Penularan tidak bisa dideskripsikan dengan tepat. Sehingga sangat menakutkan," terangnya. 

Terlebih, katanya, WHO menetapkan ini sebagai pandemik, maka terjadilah hal-hal yang menakutkan dunia. 

"Menurut saya WHO gagap tidak mampu menghadapi pandemi COVDI-19 ini," tandasnya. 

Saat ini ilmuwan dari seluruh penjuru dunia juga sedang berlomba mencari vaksin COVID-19, termasuk di antaranya Bill Gates yang mengucurkan dana besar untuk memodali riset vaksin, Siti Fadilah Supari justru menilai bahwa vaksin belum diperlukan pada fase ini. 

Dijelaskan Siti Fadilah Supari, fase sekarang virusnya masih berubah-ubah, tidak akan bisa ditaklukkan dengan vaksin. 

Indonesia Belum Butuh Vaksin COVID-19

"Dunia tidak butuh vaksin saat ini, ya kecuali Bill Gates yang sangat concern terhadap vaksin, bahkan sejak pertemuan di Davos 2017 dia sudah mengimbau negara kaya untuk menyiapkan vaksin bila ada pandemik. Dan sekarang Bill gates sudah mulai uji coba ke beberapa orang di suatu negara tertentu. Bill Gates juga mengatakan untuk membuat vaksin paling cepat 18 bulan," jelas Siti Fadilah Supari. 

Namun demikian Siti Fadilah Supari mengaku tidak mencurigai Bill Gates, tetapi dirinya mempertanyakan Bill Gates pakai seed virus yang mana untuk membuat vaksin yang akan diuji coba tersebut. 

"Padahal kata Bill Gates membuat vaksin itu membutuhkan waktu setidaknya 18 bulan.Tapi diberitakan, Bill Gates mulai uji coba vaksin ke beberapa orang," katanya. 

Menurut pandangan Siti Fadilah Supari, vaksin dibuat dari virus yang dilemahkan. Kata dia, bila virus yang dilemahkan itu berasal dari China, misalnya, maka tidak cocok kalau dipakai di Indonesia. Karena vaksin akan memacu timbulnya antibodi yang sesuai dengan antigen (dari virus yang dilemahkan). 

"Jadi dalam kasus ini kita akan kebal terhadap virus China. Lha kalau yang menyerang virus Indonesia, kita tetap tidak terlindung. Lalu, apakah Indonesia harus membuat vaksin sendiri. Apa bisa? Pasti bisa, asal ada good will dari pemerintah. BPPT sudah mulai membuktikan bahwa kita bisa. Ya harus di-support penuh. Jangan sampai vaksin selalu diorientasikan sebagai ladang bisnis," tegasnya. 

Siti Fadilah Supari bahkan berpendapat Indonesia tidak harus membeli vaksin yang diharuskan WHO meski pun dengan alasan keselamatan dunia. Vaksin buatan sendiri dengan seed virus varian Indonesia, katanya, jauh lebih tepat, apalagi bisa diproduksi dengan cara halal. 

"Mafia-mafia internasional memaksa kita membeli vaksin (dari mana seed virus-nya kita tidak tahu) dengan dasar anjuran WHO. Kalau kita tidak punya uang, World Bank siap memberi utang, tidak peduli utang kita semakin bertambah," kritisnya.

Siti Fadilah Supari menekankan, WHO gagap dalam menangani COVID-19. Tak hanya itu, lanjut dia, WHO juga tidak mengerti esensinya pandemik karena banyak hal yang dilakukannya menjadi blunder. 

"Mestinya Indonesia memimpin negara-negara lain untuk menuntut pimpinan WHO mundur karena tidak mampu menyelamatkan umat manusia di dunia dari pandemik covid. Yang relevan bicara seed virus COVID-19 strain Indonesia akan ditemukan adalah klinikus yang bekerja sama dengan virologist, Bukan epidemiologist. Seed virus bisa ditemukan bila virus sudah stabil, artinya ketika pandemik mereda," papar Siti Fadilah Supari. 

Dia juga menilai bahwa physical distancing dalam rangka Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan pemerintah adalah langkah yang baik secara public health. 

"Itu baik. Tetapi di mata klinikus lebih dulu harus dilakukan screening massif serentak, baru dilakukan PSBB. Jadi pada saat kita dikurung se-kecamatan atau se-kabupaten, kelompok mana yang positif dan mana yang negatif jelas terpilah. Dengan demikian PSBB akan efektif," pungkas Siti Fadilah Supari.