Pimpinan Majelis Pembela Rasulullah itu kembali masuk bui diduga karena tidak mematuhi physical distancing karena mengundang massa saat berceramah dan di hari saat dia bebas pada Sabtu (16/5).

Mantan terpidana kasus kekerasan terhadap anak, Habib Bahar bin Smith kembali ditangkap. Pimpinan Majelis Pembela Rasulullah itu kembali masuk bui diduga karena tidak mematuhi physical distancing karena mengundang massa saat berceramah dan di hari saat dia bebas pada Sabtu (16/5).

Kabar penangkapan Habib Bahar pertama kali disampaikan DPP Lembaga Informasi Front yang beralamat di Jalan Petamburan 3, Jakarta Pusat. Melalui akun Twitter @dpplif, begini kicauannya;

Breaking news,
Jam 02.00 malam ini Habib Bahar bin Smith kembali ditangkap.

 

 


Kabar penangkapan Habib Bahar dibenarkan oleh Ketua Persaudaraan Alumni 212 Slamet Maarif. Namun, belum diketahui mengapa Habib Bahar kembali ditangkap meski baru bebas berkat asimilasi. "Saya mau tanya ke pengacara pagi ini," ucap Slamet, Selasa (19/2).

Terpisah, Imam Front Pembela Islam (FPI) DKI Jakarta Habib Muchsin Alatas sempat mengunggah status berisi pesan singkat dari Habib Bahar ihwal penangkapannya. Habib Bahar mengaku menulis pesan itu saat dalam perjalanan menuju lapas.

 

 



Dalam pesan singkat, Habib Bahar mengaku dijemput pada pukul 02.00 WIB untuk kembali masuk tahanan. Dia tidak dibawa ke Lapas Pondok Rajeg, Cibinong, tempat sebelumnya ia menjalani masa hukuman, melainkan ke Lapas Gunung Sindur.

"Karena ceramah saya waktu malam saya bebas," kata Bahar lewat pesan singkat yang diunggah Habib Muchsin Alatas.

Diketahui, Habib Bahar bin Smith bebas dari Lapas Pondok Rajeg pada Sabtu lalu (16/5). Habib berambut gondron itu langsung menuju kediamannya di Pondok Pesantren Tajul Aliwiyin kawasan Kampung Kemang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kedatangannya disambut banyak orang. Terutama para santri yang selama ini menuntut ilmu di pondok pesantrennya.

Mereka yang menyambut Habib Bahar tidak mematuhi imbauan physical distancing di tengah pandemi virus corona. Tidak ada yang menjaga jarak satu sama lain.

Bahar lalu mendapat peringatan dari petugas pemasyarakatan karena langsung menggelar kegiatan di Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin, Kemang, Kabupaten Bogor, setelah bebas bersyarat lewat program asimilasi. Menurutnya itu melanggar Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).



"Setelah kejadian itu maka saya perintahkan petugas (pemasyarakatan) untuk menelepon yang bersangkutan. Mengingatkan bahwa bagaimana pencegahan Covid-19 saat masa PSBB, jadi tidak boleh mengumpulkan massa yang banyak," kata Kepala Divisi Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat, Abdul Aris, Senin (18/5) dikutip dari Antara.

Aris mengaku sudah mengingatkan Habib Bahar agar tidak membuat kegiatan yang mengundang massa di pondok pesantrennya tersebut. Selain itu, Bahar juga diminta untuk mengimbau para jemaahnya agar turut membantu pencegahan Covid-19.

"Ya melanggar khusus secara administratif, karena PSBB kan tidak boleh mengumpulkan massa. Kami mengingatkan supaya tidak diulang lagi," kata dia.

Namun, pada malam harinya, Habib Bahar justru menggelar kegiatan yang mengundang banyak orang. Dia menyampaikan ceramah. Jumlah orang yang datang jauh lebih banyak. Mereka pun tidak menjaga jarak satu sama lain.

Salah satu poin ceramahnya yang mendapat banyak perhatian adalah ketika Habib Bahar mengatakan, siap dipenjarakan kembali.

"Saya besok dipenjarakan lagi karena berjuang untuk rakyat kecil. Bahkan dimatikan, saya ridho saya ikhlas!’

Dahulu, Habib Bahar menjalani hukuman penjara berdasarkan vonis vonis tiga tahun penjara dan denda Rp50 juta subsider 1 bulan kurungan oleh Pengadilan Negeri Bandung. Bahar dinyatakan bersalah dalam kasus penganiayaan terhadap dua remaja.