Warga di dua negara di Amerika Tengah itu terancam kelaparan akibat kebijakan lockdown yang telah berjalan selama 50 hari

Kebijakan lockdown ketat terkait pandemi virus Corona atau Covid-19, membuat kehancuran ekonomi di Guatemala dan El Savador.

Warga di dua negara di Amerika Tengah itu terancam kelaparan akibat kebijakan lockdown yang telah berjalan selama 50 hari berimbas memadamkan mata pencaharian warga.

Ratusan keluarga di negara tersebut mengibarkan bendera putih di luar rumah mereka dan mengibarkannya di jalanan sembari mencari makanan dan bantuan. Bersama ketiga tetangganya, Ana Orellana memasang bendera putih dan tanda meminta makan di rumahnya di ibu kota El Salvador.



Orellana yang merupakan pedagang kaki lima mengatakan bahwa sejak pemerintah memerintahkan warga diam di rumah, ia kehilangan pendapatan untuk sewa tempat tinggal dan makanan 75 dolar AS.

Sekarang dia bergiliran dengan tetangganya untuk mencari sisa-sisa makanan di pasar kota. "Aku mencari-cari lokasi di mana sampah berada," kata Orellana, diberitakan Reuters.

"Saya pergi ke pasar Tiendona untuk mendapatkan barang-barang, karena kami benar-benar tidak memiliki tomat atau bawang sekarang, dan kami membuat sup tomat di sini tanpa minyak, hanya dipanggang setengah matang," sambungnya.



Selain bendera putih, ada tanda bacaan di atas jendela setiap rumah 'kami bukan penerima manfaat', untuk mengisyaratkan bahwa mereka tak menerima voucher senilai 300 dolar AS dari Presiden Nayib Bukeke kepada 1,5 juta warga miskin.

Menurut laporan Reuters, hal serupa juga jauh meluas terjadi di kawasan Amerika Tengah dan sebagian Amerika Latin.

Protes kebutuhan makanan telah pecah di negara-negara termasuk Venezuela dan Chili. El Salvador dan Guatemala yang berdekatan, dua negara termiskin di Amerika, telah mengalami karantina yang ketat.

Di kota-kota dan desa-desa di kedua negara, ratusan tanda telah dikibarkan untuk meminta makanan, dan orang-orang turun ke jalan untuk mengibarkan bendera putih berpesan dalam kesulitan.

Bingkisan makanan dari pemerintah nasional dan sumbangan dari para dermawan telah meringankan sebagian dari kekurangan tersebut, tetapi jumlahnya sangat terbatas.

"Kami khawatir tentang virus dan makanan, karena jika virus tidak membunuh kami, kelaparan akan (membunuh). Kami sangat membutuhkan makanan untuk dimakan," kata Jose Rodriguez (69), seorang pedagang kaki lima yang tinggal di rumah kos San Salvador.

Sementara, Pemerintah Guatemala mengatakan telah mengirimkan hampir 190.000 kotak makanan kepada lebih dari 1,2 juta orang, sekitar 7 persen dari populasi. Di El Salvador, pasukan keamanan mulai membagikan 1,7 juta kantong makanan kepada orang miskin.