Prosesi ini tetap bermakna sebagai ungkapan rasa syukur dan sedekah dari raja kepada kerabat dan rakyatnya

Pada peringatan Hari Raya Idulfitri 1441 H/Wawu 1953 atau Minggu (24/5), Keraton Yogyakarta meniadakan Hajad Dalem Garebeg Sawal dan Ngabekten. Kebijakan ini diambil guna mendukung anjuran pemerintah dan menyesuaikan kondisi tanggap darurat bencana COVID-19. Meski demikian, Keraton Yogyakarta tetap membagikan ubarampe gunungan yang berupa rengginang sejumlah 2.700 buah. Ubarampe tersebut berjumlah sama dengan banyaknya rengginang yang disiapkan dalam Gunungan Estri dan Gunungan Dharat pada saat Upacara Garebeg sebagaimana mestinya. 

Pada Sabtu (23/5), ubarampe rengginang dibusanani atau diberikan kain penutup bermotif bangun tulak oleh Kanca Abrit dan selanjutnya dibawa ke Bangsal Srimanganti untuk diinapkan satu malam. Pada Minggu (24/5) pukul 09.00 digelar prosesi pembagian dan pemberangkatan ubarampe di Bangsal Srimanganti yang dipimpin GKR Mangkubumi. Turut hadir pada agenda tersebut Putra Dalem Putri dan Mantu Dalem yakni GKR Condrokirono, KPH Wironegoro, KPH Purbodiningrat, dan KPH Notonegoro.

Sebelum dibagikan, terlebih dulu ubarampe didoakan Abdi Dalem Kaji yang dipimpin oleh Mas Panewu Ngabdul Wahab. Ubarampe rengginang selanjutnya didistribusikan kepada Abdi Dalem Keraton Yogyakarta, Kepatihan, dan Puro Pakualaman. Utusan Dalem yang mengantarkan ubarampe ke Kepatihan diwakili oleh KRT Widyacandra Ismayaningrat, sedangkan untuk Puro Pakualaman diwakili oleh KRT Wijoyopamungkas. Di Kepatihan, ubarampe diterima oleh Sekretaris Daerah DIY. Drs. R. Kadarmanta Baskara Aji. Ubarampe selanjutnya didistribusikan kepada perwakilan biro dan divisi yang ada di Kompleks Kepatihan. 

Pembagian gunungan kepada Abdi Dalem Keraton Yogyakarta selanjutnya dilakukan oleh Putra Dalem Putri dan Mantu Dalem kepada Abdi Dalem Carik dari setiap tepas dan kawedanan. Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Keraton Yogyakarta GKR Condrokirono menuturkan, “Tujuannya supaya pembagian tidak menimbulkan kerumunan. Selain itu, semua Abdi Dalem juga wajib menggunakan masker dan mematuhi standar protokol kesehatan dengan saling menjaga jarak.”

Sementara itu, Wakil Penghageng KHP Parwa Budaya Keraton Yogyakarta GKR Mangkubumi, mengatakan bahwa meski tak digelar seperti biasanya, esensi dari Garebeg itu sendiri tetap terjaga. “Prosesi ini tetap bermakna sebagai ungkapan rasa syukur dan sedekah dari raja kepada kerabat dan rakyatnya. Disamping itu, pelaksanaan Garebeg pada zaman dahulu memang dilakukan dengan membagi-bagikan ubarampe gunungan, bukan dengan merayah atau merebut gunungan seperti dikenal saat ini,” ujar GKR Mangkubumi.