Trump dinilai sudah kehilangan cara untuk melawan China setelah ancaman perang nuklir tidak membuat nyali China menciut.

Aksi Presiden AS Donald Trump yang mengancam tidak akan membayarkan utang pemerintah AS kepada China dipastikan akan memicu ketegangan baru yang sangat serius. Bahkan, ancaman itu bisa dimaknai sebagai gong pembuka dimulainya perang sungguhan antara AS dan China. 

Pada akhir April 2020, Trump kembali menyalahkan China atas penyebaran virus corona. Trump menuding sumber virus itu sengaja disembunyikan China sehingga menimbulkan penderitaan masyarakat dunia. Trump bahkan mengaku memiliki bukti bahwa virus corona memang sengaja diciptakan di sebuah laboratorium virologi di China. Atas dugaan itulah, Trump mengancam tidak akan membayarkan utang kepada China.

Saat ini, AS memang punya utang cukup besar kepada China yakni sebesar US$ 1,3 triliun. Data The Balance menyatakan, China memegang treasury AS sebesar US$ 1,09 triliun per Februari 2020. Angka ini lebih 15% dari keseluruhan treasury AS yang dipegang negara asing sebesar US$ 7,06 triliun. China berada di urutan kedua pemegang surat utang AS di antara negara-negara lain. Di bawah Jepang yang memegang US$ 1,27 triliun. 

Sementara di bawah China ada Inggris (US$ 403,4 miliar), Brazil (US$ 285,9 miliar), Irlandia (US$ 282,7 miliar), Luksemburg (US$ 260,8 miliar), dan Swiss (US$ 243,7 miliar). Jumlah treasury yang dipegang Tiongkok sudah berkurang sejak puncaknya pada 2011, yakni sebesar US$ 1,3 triliun. 

China tentu saja tidak akan tinggal diam. Sehingga bisa dipastikan, sikap Trump ini akan memicu kekhawatiran perang dagang antara AS dan Tiongkok. Buktinya sudah ada, yakni anjloknya harga minyak mentah dunia pada penutupan perdangangan 4 Mei di bawah US$ 20 per barel.

Konon, gaya Trump yang enggan membayarkan utang merupakan cara merampok koboi di siang hari. Ketika secara bisnis Amerika kalah dari China, cara yang paling mungkin dilakukan adalah dengan mencari ‘gara-gara’. Yakni menyalahkan China atas pandemi corona. Sayangnya, tuduhan itu hingga kini tidak pernah terbukti.

Trump dinilai sudah kehilangan cara untuk melawan China setelah ancaman perang nuklir tidak membuat nyali China menciut. Pasalnya, China sendiri juga memiliki senjata yang lebih canggih dari Amerika. Dalam hitungan menit saja, jangkauan rudal milik China bisa dipastikan sudah tiba di Washington.

Kolumnis Reuters, John Faley menyebut, ancaman Trump yang enggan membayarkan utang kepada China, bakal berdampak layaknya perang nuklir. Pasalnya, status dolar AS sebagai mata uang dunia akan mengalami kekacauan, merusak pasar dunia, hingga menimbulkan merusak penanganan pandemi corona.

“Kemungkinan buruk yang terjadi adalah penggagalan pembayaran utang akan menghancurkan pasar treasury senilai total US$ 18 triliun. Suku bunga AS pun akan melonjak dan menghancurkan perekonomian global. Lepas dari itu, default dilarang oleh konstitusi AS,” ujar Faley dalam ulasannya di Reuters.

Kendati demikian, Foley menilai Trump masih sangat mungkin melakukan rencananya. Kondisi corona bisa memenuhi alasan memaksa bagi Trump menggunakan Pakta Darurat Ekonomi Internasional AS. Peraturan yang dibuat pada 1977 ini pernah digunakan Jimy Carter untuk membekukan aset Iran pada 1979 dan Obama ke Venezuela. 

Melalui peraturan itu, kata Foley, Trump dapat menebang pilih pemegang obligasi yang berhubungan dengan China saja. Trump bahkan bisa menentukan besaran utang yang tak perlu dibayar, termasuk membekukan aset China di AS. Sehingga ia bisa berdalih tak men-default seluruh utang luar negeri AS. 

Langkah ini, menurut Foley, tak akan sepenuhnya efektif. Namun dengan melakukannya Trump bisa mengelola calon pemilihnya dengan menggunakan China sebagai sasaran tembak. “Memakzulkan utang ke Tiongkok tidak bijaksana, tapi menjadi satu hal yang dekat dengan kenyataan,” kata Foley.