Saat jumlah positif Covid-19 di tanah air terus menanjak, kabar kedatangan 500 tenaga kerja asing (TKA) asal China, benar-benar bikin heboh. Apalagi mereka menggenggam izin yang sah. Waduh.

Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengungkapkan alasan pemerintah menyetujui masuknya Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China ke Indonesia.

Ia menyebut dua perusahaan di Konawe, Sulawesi Tenggara, membutuhkan keahlian dari pekerja asal China tersebut. "Alasan pemerintah menyetujui masuknya TKA China tersebut, karena keahliannya dibutuhkan oleh dua perusahaan yang ada di Konawe," ujar Ida, Jakarta, Kamis (25/6/2020).

Ia menuturkan, kemenakertrans telah meminta pendampingan dari tenaga kerja lokal kepada seluruh TKA asal China itu. Dengan begitu, harapannya, terjadi transfer ilmu dari TKA China kepada tenaga kerja lokal. "Pada akhirnya, ketika tenaga kerja lokal kita sudah bisa memahami teknologinya, maka operasional selanjutnya akan diserahkan kepada tenaga kerja lokal," imbuh Ida.

Politisi PKB ini menyatakan, proses kedatangan TKA ke Indonesia akan diperketat sesuai dengan Peraturan Menteri Hukum Dan HAM Nomor 11 Tahun 2020 tentang Pelarangan Sementara Orang Asing Masuk Wilayah Indonesia. Di mana, TKA yang akan datang ke Tanah Air harus dinyatakan sehat. Mereka juga harus melalui masa karantina di negara asal selama 14 hari dan berikutnya 14 hari setelah kedatangannya di Indonesia. "Kemnaker akan mengawasi kedatangan mereka bekerja sama dengan Timpora, Tim Pengawasan Orang Asing, untuk melakukan pengawasan kelengkapan dokumen kesehatan maupun dokumen imigrasi mereka," jelasnya.

Sebelumnya, Pemprov Sulawesi Tenggara mengizinkan 500 orang TKA asal China masuk ke wilayahnya untuk bekerja di perusahaan industri, Morosi, Kabupaten Konawe. Ratusan TKA asal China itu datang untuk bekerja di PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI), sebuah perusahaan modal asing (PMA). Pada Selasa (23/6/2020), sebanyak 156 TKA asal China kembali tiba di Bandar Udara Haluoleo Kendari, Sulawesi Tenggara.

Kedatangan mereka langsung mendapat pengawalan ketat aparat TNI dan Polri. Namun, kedatangan mereka ditolak oleh warga setempat. Massa dari berbagai organisasi melakukan boikot jalan keluar dan masuk Bandara Haluoleo.