Tanah jarang ini banyak manfaatnya, misalnya saja di Amerika dimanfaatkan untuk komponen elektronik dan sistem persenjataan.

Elemen tanah jarang alias rare earth element mendadak terkenal setelah dua Menko Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Luhut Panjaitan dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menggelar pertemuan khusus. Dalam pertemuan itu, kedua jenderal purnawirawan ini membahas penggunaan tanah jarang untuk industri senjata.

Jika dicermati, tanah jarang ini sebetulnya sudah pernah disinggung dalam sebuah karya fiksi. Tepatnya dalam film bergenre marvel, Black Panther. Dalam film itu, Wakanda, adalah sebuah negara fiksi yang memiliki kandungan mineral bernama vibranium yang bisa diolah menjadi sebuah senjata canggih dan menakutkan. 

Saat ini, menurut Deputi Bidang Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves, Septian Hario Seto, semua potensi Rare Earth ini sedang dilakukan penelitian.

"Semua ini kemarin kita dapat info dari salah satu Profesor ITB itu di Nikel kadar rendah ini juga ada, dia lihat potensi rare earth. Tapi yang Inalum lihat itu di PT Timah itu," ungkapnya.

Ia menyebut hal itulah yang menjadi pembicaraan antara Luhut dan Prabowo. Tanah jarang ini banyak manfaatnya, misalnya saja di Amerika dimanfaatkan untuk komponen elektronik dan sistem persenjataan.

"Ya banyak sih penggunaanya, salah satunya itu. Lagi dilihat untuk eksplorasinya karena kita perlu tahu jumlah cadangan dulu seberapa, segala macamnya. Yang sudah di lihat itu di Timah," jelasnya.

Rencana hilirisasi komoditas ini menurutnya akan tergantung dari seberapa cepat eksplorasi dilakukan. Nanti akan ada teknologinya setelah diketahui jumlah cadangannya. “Ini sedang diteliti potensinya, ada di PT Timah. AS (memanfaatkan), banyaklah," paparnya.

Sementara berdasarkan kajian Pusat Sumber Daya Mineral dan Panas Bumi, Badan Geologi, Kementerian ESDM, potensi tanah jarang di Indonesia ditemukan di Sumatera, Jawa, hingga Kalimantan. REE banyak ditemukan di mineral monazit, zirkon dan xenotim.

Saat ini perusahaan BUMN yakni PT Timah (Persero) Tbk dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) masih dalam tahap mengkaji berbagai hal terkait dengan REE, termasuk nilai keekonomian proyek. Artinya, Indonesia masih berada di tahap awal pengembangan industri ini.