Pandemi Virus Corona (Covid-19) benar-benar bikin pemerintah dan rakyat sulit bergerak. Sendi-sendi perekonomian terkulai lantaran wabah yang mendunia ini.

Tak sedang bercanda, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bilang, pandemi Covid-19 memperburuk seluruh sektor publik hingga swasta. Untuk itu, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk membangkitkan kembali perekonomian, melalui stimulus fiskal.

Setelah dihitung, untuk membiayai stimulus fiskal perlu dana Rp695,2 triliun. Selain itu, pemerintah ancang-ancang memperlebar defisit hingga 6,34% dari Produk Domestik Bruto (PDB). "Krisis kali ini berbeda sekali karena kita harus melindungi manusia dan perekonomiannya sekaligus. Untuk membendung penyebaran virus, kita harus membatasi pergerakan manusia," ujar Sri Mulyani di Jakarta, Selasa (30/6/2020).

Ia menjelaskan, krisis ini berbeda dengan 1998 dan 2008, karena merupakan guncangan besar yang tidak pernah dialami negara-negara manapun di era modern. Saat ini, pandemi Covid-19 memukul perekonomian masyarakat secara luas, termasuk rumah tangga dan pelaku usaha, khususnya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Oleh karena itu, kata dia,  pemerintah merumuskan kebijakan untuk dua hingga tiga langkah ke depan dengan mengarahkan stimulus itu untuk perlindungan sosial serta dukungan bagi UMKM. Di mana, UMKM mendapatkan restrukturisasi kredit serta subsidi bunga dan kemudahan untuk mendapatkan kredit modal kerja baik melalui penempatan dana murah pada perbankan maupun penjaminan kredit.

Ia menambahkan kondisi ini juga membuat pemerintah berupaya keras untuk merumuskan strategi pembiayaan yang baru mengingat penerimaan negara yang terbatas. "Di tengah pandemi yang menyebabkan gejolak pasar keuangan, pendalaman pasar dan mengandalkan pembiayaan domestik menjadi sangat penting," kata Sri Mulyani.

Dalam situasi ini ia memastikan pemerintah masih bergantung pada penerbitan surat berharga negara di dalam negeri dan memberikan kesempatan pada bank sentral untuk ikut terlibat di pasar primer. "Terakhir, peran lembaga keuangan multilateral dan bilateral juga sangat penting dalam memberikan pinjaman dengan bunga yang rendah," ujar Sri Mulyani.

Di sisi lain, kata mantan direktur pelaksana Bank Dunia ini, krisis 2020 membawa dampak positif pada pemanfaatan teknologi yang dapat mempercepat terjadinya inklusi keuangan "Satu hal yang berbeda pada krisis kali ini adalah adanya pembatasan sosial dan beruntung kita punya teknologi sehingga banyak transaksi dilakukan secara online," ujarnya.

Peran teknologi dapat membuat kehidupan masyarakat tetap berjalan dengan baik dan transaksi ekonomi tidak terhambat, meski kontak fisik menjadi terbatas. "Banyak orang beralih menggunakan transaksi dengan teknologi digital. Hal ini mengakselerasi penggunaan teknologi yang (selanjutnya) mentransformasi ekonomi ke digital," kata Sri Mulyani.