Rupiah melemah seiring derasnya aliran modal asing yang keluar dari Indonesia. 

LNilai tukar rupiah pada perdagangan pasar spot sore ini, Jumat (3/7) melemah 1,01 persen ke level Rp 14.522 per dolar Amerika Serikat. Rupiah melemah seiring derasnya aliran modal asing yang keluar dari Indonesia. 

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate yang dipublikasikan Bank Indonesia pada pukul 10.00 WIB bahkan menempatkan rupiah pada level Rp 14.566 per dolar AS.

Sejumlah mata uang Asia juga turut melemah terhadap dolar AS. Mengutip Bloomberg,  dolar Taiwan melemah 0,04%, ringgit Malaysia 0,01%, dan baht Thailand 0,13%. Sementara, mayoritas mata uang Asia justru menguat.

Yen Jepang naik 0,05%, dolar Hong Kong 0,01%, dolar Singapura 0,03%, won Korea Selatan 0,11%, peso Filipina 0,36%, rupee India 0,5%, dan yuan Tiongkok 0,01%.

BI mencatat aliran modal asing kembali keluar dari Indonesia. "Berdasarkan data transaksi 29 Juni – 2 Juli 2020, nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp 7,81 triliun," tulis Direktur Ekeskutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko dalam keterangan resminya, Jakarta (3/7).

Aliran modal asing yang kabur dari Tanah Air tersebut keluar melalui pasar Surat Berharga Negara (SBN) maupun saham. Rinciannya, Rp 6,13 triliun dari SBN dan Rp 1,68 triliun dari pasar saham.

Dengan demikian, tercatat nett inflow Rp 144,22 triliun sejak awal tahun hingga 2 Juli 2020. Selain itu, yield SBN 10 tahun menurun dari 7,2% menjadi 7,19% pada pagi hari ini.

Premi risiko investasi Indonesia atau Credit Default Swaps 5 tahun juga turun dari 131,47 basis poin per 26 Juni 2020 menjadi 121,68 bps.

Seperti diberitakan katadata.co.id, Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai modal asing kembali keluar pasar Indonesia akibat makin meningkatnya kasus harian pandemi di Tanah Air. "Wajar kalau pasar kembali apatis," ujar Ibrahim.

Tambahan kasus positif Corona, Jumat (3/7) tercatat 1.301 menjadi 60.695 kasus. Angka kematian mencapai 3.036, sedangkan 27.568 orang berhasil pulih, seperti terlihat dalam databoks di bawah ini.

Di sisi lain, Ibrahim menilai isu rencana perubahan kabinet Presiden Joko Widodo hingga pembubaran lembaga juga menjadi penyebab keluarnya arus modal asing. Walaupun kebijakan tersebut merupakan hak proregratif presiden namun hal tersebut dirasa tak terlalu mendesak untuk dilakuakan karena negara dalam kedaaan darurat nasional Covid-19.

"Sehingga strategi bauran ekonomi yang diterapkan baik oleh pemerintah maupun BI menjadi tidak berfungsi akibat pasar condong terhadap pernyataan presiden tersebut," kata dia.

Dalam perdagangan pekan depan, dirinya memperkirakan kemungkinan rupiah masih akan melemah. Potensi pergerakan ada di rentang Rp 14.525-14.600 per dolar AS.