Menjadi pengungkit agar ekonomi Indonesia bisa ada di jalur positif

Komponen Belanja Pemerintah berupa Belanja Modal dan Belanja Barang pada semua Kementerian/Lembaga (K/L) diharapkan mengalami peningkatan guna mendukung Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Optimalisasi ini juga dimaksudkan untuk mencegah resesi dan kontraksi ekonomi pada kuartal ketiga dan keempat tahun 2020, sehingga tren pertumbuhan Ekonomi kian membaik.

“Pemerintah mendorong agar K/L bisa melakukan belanja di kuartal ke-3 dan ke-4 tahun 2020. Kemudian juga ada program Pemulihan Ekonomi Nasional. Jadi ini diharapkan menjadi pengungkit agar ekonomi Indonesia bisa ada di jalur positif,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Pandemi COVID-19 juga menjadi momentum bagi percepatan Transformasi Digital. Menko Airlangga mengatakan, Transformasi Digital adalah akselerator pemulihan ekonomi nasional dan penciptaan lapangan kerja.

“Tentunya ini juga untuk memenuhi realisasi potensi ekonomi digital di tahun 2025 dan mengakselerasi revolusi industri 4.0,” tuturnya.

Jika melihat indikator ekonomi, setelah menghadapi tekanan pelemahan, nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat. Rupiah bahkan telah mendekati level Prapandemi COVID-19.

“Berbeda dengan krisis sebelumnya, posisi keuangan kita dalam krisis kali ini relatif kuat. Itu juga tercermin dari angka nilai tukar rupiah yang menguat dan masih di kisaran Rp14.400,-. Kemudian IHSG juga ada di level 4.900,” lanjut Airlangga.

Capital Flow juga sudah kembali masuk ke Indonesia. Lalu ada pula beberapa sektor yang mulai bangkit seiring diberlakukannya New Normal. “Seperti di sektor transportasi, peralatan elektronik, packaging, dan juga sektor yang dianggap punya daya tahan kuat adalah sektor perkebunan atau kelapa sawit,” sambungnya.

Airlangga pun menyinggung soal tingkat penularan COVID-19 yang masih menunjukan tren meningkat, baik secara global dan domestik. Meski menurun di beberapa provinsi, namun masih cukup tinggi di beberapa provinsi lainnya.

“Untuk itu, kita harus tetap waspada bahwa COVID-19 ini belum selesai. Jadi pada saat situasi New Normal, tentu kita tetap harus berhati-hati terhadap virus ini,” tegas Menko Perekonomian.

Ia pun menerangkan bahwa beberapa perusahaan domestik telah memulai upaya pencarian vaksin COVID-19 baik mandiri maupun bekerja sama dengan perusahaan di luar negeri.

Bentuk kerja sama ini berpotensi mendapatkan fasilitas Super Deduction Tax berupa pengurangan Penghasilan Bruto hingga 300% dari biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan Penelitian dan Pembangunan (Litbang).

“Sebab kunci dari penyelesaian masalah COVID-19 adalah penemuan vaksin. Jadi ada beberapa upaya yang menjadi prioritas pemerintah,” jelas Menko Airlangga.