Jenderal bintang tiga itu menyatakan, keperluan impor hanya diperuntukkan dalam kondisi sangat terpaksa.

Dirut Perum Bulog (Persero) Budi Waseso blak-blakan selama masih menjabat tidak akan mengimpor beras. Fokusnya, memperkuat serapan gabah atau beras dari petani untuk mencukupi stok nasional.

Jenderal bintang tiga itu menyatakan, keperluan impor hanya diperuntukkan dalam kondisi sangat terpaksa.

"Saya bertahan untuk tidak impor walau ada perintah impor, kenapa? Karena masih banyak, buktinya cadangan beras Bulog 1,4 juta ton lebih yang kita serap dari petani kenapa harus impor," kata Budi saat memimpin proses panen raya di Desa Rancaseneng Kecamatan Cikeusik, Pandeglang, Banten, Selasa, 28 Juli 2020.

Buwas sapaan akrab Budi Waseso ini mengakui beras impor yang memiliki kualitas premium harganya jauh lebih murah untuk bisa didatangkan ke Indonesia, yakni Rp6.300 per kg. Kondisi ini dinilai bisa membuat keberadaan beras lokal sulit bersaing di pasar domestik apabila kebijakan impor digulirkan.

"Kalau hari ini beras kita impor dari beberapa negara seperti Vietnam, Myanmar, Thailand, India dan lain-lain, beras premium dengan kurs dolar Rp15 ribu sampai di Indonesia itu Rp6.300 per kg, enggak masuk akal. Namun secara kualitas mereka lebih baik harus kita akui," paparnya.

Buwas menambahkan, kebijakan impor beras memang akan membuat kerja Bulog lebih mudah lantaran stok terjaga selain itu, ongkos yang perlu dikeluarkan Bulog juga lebih minim dibandingkan dengan mengurus panen petani lokal.

"Kuantitas mereka satu hektar 9-12 ton dan di sini rata-rata 6-7 ton dengan pengeringan gabah yang masih manual dan sistem pertanian yang masih konvensional," tuturnya.

Meski ada pilihan mudah, Buwas mengaku tak tergiur untuk mendatangkan beras impor untuk tiga tahun berturut-turut pada 2018, 2019 dan 2020. Serapan beras dengan harga yang lebih mahal untuk beras lokal tetap dilakukan agar mendukung berkembangnya petani di Tanah Air.

"Jadi saya lebih hormat dengan para petani daripada pejabat karena yang menghidupkan saya ini petani. Kalau tadi pagi saya enggak makan mungkin lemas, boro-boro jadi bintang tiga, hidup saja enggak mungkin," ungkapnya.

Realisasi pengadaan beras dalam negeri sampai dengan minggu ke IV Juli 2020 mencapai 850 ribu ton yang tersebar di semua wilayah kerja Perum Bulog seluruh Indonesia. Penyerapan dilakukan secara serentak di wilayah yang memasuki musim panen raya.

Bulog menargetkan pengadaan dalam negeri yang hingga akhir 2020 adalah 1,4 juta ton setara beras, jumlah tersebut sudah diperhitungkan secara matang sesuai dengan kondisi di lapangan. Buwas menegaskan bahwa tidak ada wilayah yang tidak bisa dijangkau oleh Bulog untuk diserap hasil panennya.