Sementara pemerintah di kawasan Eropa enggan kembali menerapkan lockdown.

Presiden Jokowi memprediksi kondisi perekonomian global akan semakin suram di tengah wabah corona. Prediksi itu dilontarkan Jokowi berdasarkan sejumlah data yang diterimanya dari sejumlah lembaga keuangan dunia seperti IMF dan World Bank.

Ternyata, prediksi itu kini mendekati kenyataan terutama setelah kondisi ekonomi di kawasan Eropa terporosok sangat dalam pada kuartal II/2020. Bahkan, kondisi ini diperkirakan butuh waktu bertahun-tahun agar bisa pulih.

Spanyol mencatat penurunan ekonomi paling dalam di kuartal II/2020, yaitu minus 18,5 persen. Posisi kedua disusul oleh Prancis yang mengalami penurunan ekonomi sebesar 13 persen dan Italia berada di posisi ketiga dengan penurunan sebesar 12,4 persen.

Ekonomi 19 negara di kawasan Eropa secara keseluruhan diprediksi mengalami kontraksi 12,1 persen. Penurunan tersebut sebagai dampak dari kebijakan karantina yang sangat ketat pada bisnis, pengeluaran konsumen, hingga pariwisata di beberapa negara.

Kemerosotan ekonomi Spanyol dan Prancis di kuartal kedua dinilai menyebabkan posisi yang rentan pada kedua negara ini karena terbeban utang dan proses pemulihan ekonomi yang diperkirakan akan sangat lambat.

Di samping itu, rebound di Eropa juga terancam oleh lonjakan kasus corona baru di seluruh dunia. Sementara pemerintah di kawasan Eropa enggan kembali menerapkan lockdown.  Namun di sisi lain ekonomi di kawasan ini akan sangat terpuruk jika ketakutan terhadap virus corona akan mengubah perilaku konsumen dan menghentikan orang-orang bepergian ke toko, bar, dan restoran.

Risiko besar lainnya adalah kerugian jangka panjang pada pasar tenaga kerja. Jumlah pengangguran di kawasan Eropa tercatat meningkat tinggi seiring dengan perusahaan-perusahaan yang kehilangan permintaan.