Perwakilan Indonesia di Singapura, Beijing dan Guangzhou telah meminta jenazah-jenazah ABK WNI dipulangkan ke Tanah Air. Melarung jasad di laut hanya boleh dilakukan ketika tidak ada pilihan lain

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) mengungkapkan fakta terbaru terkait aktivitas Anak Buah Kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di kapal China. Disebutkan, jumlah kematian ABK WNI di kapal-kapal tersebut bertambah menjadi 12 orang sejak November 2019.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia, Retno Marsudi, sendiri telah menyampaikan keprihatinan mendalam atas kematian para ABK tersebut saat berbicara dengan Menlu China Wang Yi.

Berdasarkan data, dari total 12 korban, empat jasad di antaranya dibuang atau dilarung ke laut. Para aktivis mengklaim beberapa ABK, yang kebanyakan tidak membawa dokumen, dituntut bekerja dalam kondisi yang mengerikan di atas kapal-kapal nelayan China tersebut. Dan Menlu Retno menuntut penyelidikan setelah pembicaraan dengan Menlu Wang Yi. 

"Saya menyampaikan kekhawatiran mendalam Pemerintah Indonesia tentang berbagai insiden yang menimpa awak kapal Indonesia di atas kapal nelayan China," katanya yang dilansir sejumlah media asing, Jumat (31/07/2020).

"Secara khusus, kami mendesak pemerintah China untuk melakukan penyelidikan menyeluruh, diikuti dengan tindakan hukum, sehubungan dengan kematian, pembuangan jasad dan kondisi kerja yang tidak layak," lanjut diplomat top Indonesia tersebut.

Direktur Pelindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia di Kementerian Luar Negeri Indonesia, Judha Nugraha, seperti dilansir Express.co.uk, mengaku telah menerima informasi baru tentang empat pelaut yang tewas di dua kapal nelayan China pada Mei dan Juni.

Judha mengatakan jasad-jasad ABK Indonesia itu telah dilarung di Laut China Selatan dan Samudra Hindia awal bulan Juli. 

Perwakilan Indonesia di Singapura, Beijing dan Guangzhou telah meminta jenazah-jenazah ABK WNI dipulangkan ke Tanah Air. Melarung jasad di laut hanya boleh dilakukan ketika tidak ada pilihan lain. 

"Kami sangat prihatin, meskipun praktik ini diizinkan di dunia maritim. Tapi ini harus menjadi pilihan terakhir ketika pemulangan (jenazah) tidak memungkinkan lagi," kata Judha.

Duta Besar China untuk Indonesia, Xiao Qian, dilaporkan telah menghadiri sebuah pertemuan pada hari Selasa yang membahas nasib para ABK WNI di kapal-kapal China.