Usahanya berkembang pesat dengan sapi yang semula hanya 20 ekor kini sudah menjadi 20 ribu ekor sapi perah dan sapi pedaging di atas lahan 850 hektare di Invercargill, Selandia Baru. Peternakan luas itu dia beri nama Rural Practice Yrust

Sejak kecil, Reza Abdul Jabbar sudah sering membayangkan dan bercita-cita menjadi petani atau peternak. Pria kelahiran Pontianak, Kalimantan Barat ini bahkan kerap bertukar pikiran dengan sang ayah terkait cita-cita dan harapannya tersebut.

Masa kecilnya dihabiskan di Gang Bersatu, Jalan HOS Cokroaminoto, Pontianak. Dia melewati pendidikan dasarnya di SDN 29 Jalan Putri Chandramidi, kemudian SMPN 3 Pontianak. Saat SMA dia pindah ke ibu kota dan bersekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Jakarta.

Ketika pada akhirnya Reza Abdul Jabbar bekesempatan menimba ilmu di nun jauh di negeri orang, tepatnya di Glenfield College di Auckland dan di Massey University, New Zealand (Selandia Baru), peluang untuknya mewujudkan cita-cita terbuka lebar.

Sejak memulai usahanya tahun 2007 silam dan atas dukungan ayah serta keluarga, Reza Abdul Jabbar membeli 20 ekor sapi yang saat itu seharga USD 1.000 (sekitar Rp 9,6 juta).

Reza Bersama Sang Isteri Silvia Abdul Jabbar Beserta Kelima Orang Anaknya, Aisha (17), Hafsha (15), Maryam (12), Omar (8), dan Talha (5) - Foto: Luisa Girao odt.co.nz 

Sapi-sapinya kemudian dipelihara di lahan milik orang dan hasil penjualan susunya dibagi sama rata 50:50 dengan pemilik lahan. Tiga tahun kemudian dia pindah lagi ke tempat lain. 

"Di tempat yang baru saya diberi kemudahan untuk membeli tanah untuk peternakan," ujar Reza Abdul Jabbar.

Sejak itu Reza Abdul Jabbar memutuskan untuk membuka usaha peternakan sendiri. Usahanya berkembang pesat dengan sapi yang semula hanya 20 ekor kini sudah menjadi 20 ribu ekor sapi perah dan sapi pedaging di atas lahan 850 hektare di Invercargill, Selandia Baru. Peternakan luas itu dia beri nama Rural Practice Yrust.

Berbekal ilmu yang dia dapat di Massey University, Reza Abdul Jabbar sempat bekerja di sebuah peternakan sapi perah di luar Hamilton, sebagai asisten manager. Hanya beberapa bulan saja menjadi asisten manager, Reza Abdul Jabbar kemudian dipromosikan menjadi manager pertanian, ketika usianya masih sangat muda sekali, yakni 22 tahun.

Saat itulah Reza Abdul Jabbar bertemu dengan Silvia, seorang wanita yang bekerja di bidang perbankan dan keuangan untuk Westpac di Wellington, yang kemudian pindah ke Hamilton dan bekerja di bank nasional, sebelum akhirnya bertugas di Kementerian Pembangunan Sosial. 

Wanita cantik itu pun akhirnya menikah dengan Reza Abdul Jabbar dan kini sudah dikaruniai lima orang anak, Aisha (17), Hafsha (15), Maryam (12), Omar (8), dan Talha (5).

Setelah membeli lahan hampir satu hektare tersebut, bersama sang isteri, Reza Abdul Jabbar pun membeli properti tetangga dan kini mengoperasikan dua peternakan sapi perah dan tiga block pendukung. Sebanyak lebih dari seribu ekor sapi diperah setiap harinya dalam peternakan tersebut.

Ini merupakan langkah besar bagi Reza Abdul Jabbar, Silvia, dan kelima anak mereka. Meskipun Southland dikenal sebagai wilayah konservatif, namun keluarga Reza Abdul Jabbar telah dikenal sebagai bagian dari komunitas lokal yang diperhitungkan.

Selain sebagai Ketua Asosiasi Muslim Southland, Selandia Baru, Reza Abdul Jabbar juga anggota dewan pengurus Gorge Road School. Selain itu, dia dan isterinya juga bertindak sebagai penerjemah untuk kepolisian setempat dan menjadi konsulat jenderal untuk RI di wilayah tempatnya bermukim.

Di tengah kesibukannya sebagai seorang peternak sukses, Reza Abdul Jabbar masih sempat mengajar di sekolah dan organisasi lainnya.

"Ya, kami sibuk. Semua orang sibuk, tapi Anda harus memberikan sesuatu (kepada orang lain), (peternakan) ini memang bagus untuk bisnis dan menghasilkan uang, namun tidak ada yang lebih berharga daripada melayani orang lain," jelas Reza Abdul Jabbar. 

Hasil Ternak yang Halalan Toyyiban

Diketahui, Reza Abdul Jabbar yang memelihara janggut lebat ini juga seorang muslim yang taat dan tidak pernah meninggalkan ibadahnya. "Muslim memiliki kewajiban dalam kehidupan ini," kata Reza Abdul Jabbar dalam khutbah Jumat nya di salah satu masjid di Invercargill.

Reza Abdul Jabbar biasa menyampaikan khutbah mingguannya setiap Jumat, sekitar pukul 13.45 waktu setempat. Kebiasaan itu merupakan cerminan dari pola hidup yang dijalaninya di Selandia Baru,

Satu pesannya yang selalu ia sampaikan, "Orang yang dipercaya adalah mereka yang memberikan pengaruh positif terhadap orang-orang di sekitarnya." 

Reza Abdul Jabbar di Peternakannya yang Luas di Selandia Baru - Foto: Luisa Girao odt.co.nz 

Sebagai Ketua Asosiasi Muslim Southland, Selandia Baru, Reza Abdul Jabbar tak lupa membagikan tips membangun bisnis. Dikatakannya, bisnis yang baik harus dimulai dari hal-hal yang baik yaitu menjalankan bisnis sesuai ajaran Islam dan kuncinya adalah halal.

Seperti ternak sapinya, Reza Abdul Jabbar dibangun dengan selalu memperhatikan unsur kehalalan dan ke-toyyiban-nya.

"Jadi halal itu enggak cuma sapi disembelih dengan bismillah saja. Tapi, jadi barang sesuai dengan prosedur. Sapi yang tidak sehat benar, tidak bisa berangkat, dan lainnya. Ini semua kita perhatikan. Jadi halalan toyyiban," ucap Reza Abdul Jabbar dalam diskusi Talk About Halal Entrepreneurship secara daring, Rabu (12/05/2020) lalu.

Unsur halalan toyyiban pada produk yang dijualnya ini ternyata menjadi pasar bagi penduduk non-muslim di Selandia Baru. Kata dia, meskipun mereka bukan muslim, tapi ada kepuasan tersendiri jika mengkonsumsi produk sapi yang halal.

Karena itu, unsur halal sangat penting di sana. Selain berdagang sesuai ajaran Islam, juga menjadi ceruk pasar yang besar karena banyak orang-non muslim yang menjadi konsumen produk halal. Dia bahkan menilai pengolahan sapi di Selandia Baru lebih baik dibandingkan di rumah potong hewan (RPH) di Indonesia.