Pengusaha yang kini jadi politikus itu memprediksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II bakal mengalami kontraksi cukup parah. Kontraksi itu, katanya, mencapai minus 6 persen, lebih tinggi dari ramalan pemerintah

Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra yang juga mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Dr. H. Sandiaga Salahuddin Uno, B.B.A., M.B.A., mengatakan perekonomian Indonesia dipastikan akan memasuki resesi ekonomi.   

Dikatakan Sandiaga Uno, kabar terkait negatifnya pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam dua kuartal tersebut akan diumumkan, Rabu (05/08/2020).

“Saya mohon bantuan dari teman-teman di sini untuk mensosialisasikan dan mengedukasi UMKM di daerah, bahwa resesi sebentar lagi masuk di Indonesia. Tanggal 5 Agustus akan ada pengumumannya,” jelas Sandi dalam video yang diunggah dalam facebook pribadinya, Minggu (02/08/2020).  

“Karena kita sudah hampir bisa memastikan kita memasuki resesi,” tegasnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, pada kuartal II 2020, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 4,3 persen. Namun belum dikatakan resesi sebab pertumbuhan ekonomi pada kuartal I masih positif, yakni 2,97 persen. Ekonomi disebut resesi bila pertumbuhan ekonomi selama 2 kuartal berturut-turut negatif. 

Lebih jauh Sandiaga Uno menjelaskan, potensi resesi bakal melemahkan permintaan dan produksi, sehingga akan berdampak langsung kepada sektor UMKM.  

Pengusaha yang kini jadi politikus itu memprediksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II bakal mengalami kontraksi cukup parah. Kontraksi itu, katanya, mencapai minus 6 persen, lebih tinggi dari ramalan pemerintah. 

“Di kuartal II 2020 ini, saya prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi besar mengalami kontraksi. Bahkan hingga minus 6 persen jika sektor konsumsi belum pulih karena pelemahan daya beli masyarakat,” ujarnya.  

Untuk itu Sandiaga Uno menyarankan, pemerintah harus mempercepat realisasi program pemulihan ekonomi nasional (PEN) demi mengurangi dampak dari resesi. Terutama realisasi anggaran kesehatan, bantuan sosial, serta insentif untuk UMKM.