Salah satu upaya Bulog dalam rangka menjaga ketersediaan daging dan komoditas pangan lainnya

Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) akan membangun gudang pendingin (cold storage) berkapasitas 20 hingga 40 ton di Nusa Tenggara Barat untuk menyimpan daging kerbau beku yang rencananya diimpor dari India.

Pimpinan Wilayah Bulog NTB, Abdul Muis Sayyed Ali, di Mataram, Rabu menjelaskan, rencana pembangunan cold storage tersebut dalam rangka mendukung ketersediaan daging sapi dan kerbau di NTB, sehingga harganya tidak mahal akibat adanya kelangkaan.

"Kami telah mengajukan ke direksi untuk dapat membangun cold storage tersebut. Kalau Bulog NTB sudah memiliki sarana itu, maka ketersediaan daging terjaga dan harganya dapat menjadi stabil," katanya.

Menurut dia, potensi pasar daging kerbau beku di NTB masih terbilang bagus. Sebab, warga di daerah yang dijuluki Pulau Seribu Masjid tersebut gemar mengkonsumsi daging ruminansia, khususnya sapi.

Namun, kata Abdul, tingkat harga daging sapi di NTB, mencapai Rp120 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram (kg). Harga tersebut relatif lebih mahal dibandingkan dengan daging beku impor sebesar Rp75 ribu/kg.

"Potensi itu sangat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhhan daging. Kalau beli sapi Rp15 juta paling hanya dapat daging 60 kilogram karena sapi ada tulangnya, kakinya dan kulitnya. Kalau beli daging beku dari Bulog bisa dapat 200 kilogram dengan harga Rp15 juta," ujarnya.

Meskipun harganya relatif murah, Abdul menegaskan bahwa penjualan daging beku impor di NTB, tidak akan merusak pasar daging sapi/kerbau di provinsi yang memiliki program Bumi Sejuta Sapi tersebut.

Pihaknya hanya akan mengambil potensi pasar daging ternak ruminansia sebesar lima persen, sehingga sebesar 95 persen kebutuhan masih di dalam mekanisme pasar.

"Itu hanya sebagai salah satu upaya Bulog dalam rangka menjaga ketersediaan daging dan komoditas pangan lainnya, seperti beras, gula pasir, tepung terigu dan minyak goreng," ucapnya pula.

Abdul juga memastikan bahwa daging beku yang akan didatangkan dari India sudah bersertifikat halal karena dipotong sesuai dengan syariat Islam. Selain itu, ada sertifikat dari lembaga karantina pemeriksaan kesehatan hewan serta proses pemotongan juga ditangani dokter hewan.

"Banyak yang masih salah paham dengan daging beku yang dijual Bulog. Perlu diluruskan bahwa daging beku jauh lebih sehat dibandingkan yang belum dibekukan," katanya.