Gara-gara Pandemi COVID-19, industri rokok mulai batuk-batuk, bahkan sudah ada yang mulai sesak nafas. Termasuk dua parikan besar, penjualannya anjlok.

Tahun ini, tampaknya menjadi masa suram bagi sebagian besar industri di tanah air. Termasuk industri rokok papan atas yakni PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP). Bisa jadi karena masyarakat mulai memasang ikat pinggang cukup ketat, termasuk untuk belanja rokok. Sehingga baik penjualan maupun laba yang dikoleksi kedua pabrikan itu, turun signifikan.

Berdasarkan laporan keuangan semester I-2020, laba bersih Gudang Garam rontok 10,74% secara tahunan (year on year/yoy), menjadi Rp3,82 triliun dibandingkan semester I-2019 sebesar Rp4,28 triliun. Sementara pangsa pasar Gudang Garam mencapai 25,6%. Rinciannya, 30,8% untuk produk sigaret kretek mesin rendah tar nikotin; 16,9% untuk segmen sigaret kretek tangan; 44,8% untuk segmen sigaret kretek mesin FF; serta 5,3% untuk segmen rokok non-kretek atau rokok putih (SPM).

Dari sisi pendapatan semester di semseter I-2020, GGRM membukukan angka Rp53,65 triliun. Atau naik tipis 2,23% (yoy) dibandingkan semester I-2019 sebesar Rp 52,74 triliun. Meski demikian, beban pokok pendapatan melonjak 5,15% (yoy) menjadi Rp 44,99 triliun. Beban pokok didorong kenaikan pada pos pita cukai, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan pajak rokok yang naik 6,7% (yoy) menjadi Rp35,77 triliun dari sebelumnya Rp 33,52 triliun.

Kondisi yang sama dialami HM Sampoerna, di mana labanya ikut mengering 2,83% secara tahunan (yoy) menjadi Rp4,88 triliun, dibandingkan semester I-2019 yang mencapai Rp6,77 triliun. Laba bersih Sampoerna juga merosot, diduga karena penjualan rokoknya sepanjang semester I-2020, turun 11,8% menjadi Rp44,73 triliun dibandingkan periode yang sama sebelumnya Rp50,71 triliun.

Saat ini, HM Sampoerna menguasai 29,6% pangsa pasar di segmen sigaret kretek mesin; 57,2% pangsa pasar di segmen rokok putih; dan 36,3% pangsa pasar di segmen sigaret kretek tangan. Selain karena, ya itu tadi, daya beli masyarakat anjlok, kinerja industri rokok terganggu oleh kebijakan pemerintah. Yakni penaikan cukai rokok sejak awal tahun ini.

Meski demikian, masih ada emiten rokok yang masih mampu bertahan di tengah hantaman pandemi dan kenaikan cukai rokok dengan membukukan pertumbuhan laba lebih dari 300% pada semester I-2020. Laba bersih PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC) meroket 324,39% (yoy) pada semester I, menjadi Rp 4,58 miliar. Lonjakan laba ini lantaran pendapatan yang naik 27,39% menjadi Rp100,92 miliar.

Kemudian, PT Wismilak International Tbk laba bersihnya melesat 409,67%, menjadi Rp 43,6 miliar. Lesatan laba bersih perusahaan berkode emiten WIIM ini didorong oleh penjualan yang naik 27,71% (yoy) menjadi Rp 829,26 miliar. Meski dua pemain utama di sektor rokok, kinerjanya menurun, analis memprediksi industri rokok masih menjadi sektor yang tahan guncangan pada pada semester II, meski perekonomian Indonesia terancam masuk jurang resesi.

Analis CSA Research Institute, Reza Priyambada mengatakan, melonjaknya laba dan pendapatan dua emiten rokok lantaran industri ini tidak signifikan terdampak pandemi corona. Artinya industri rokok merupakan sektor yang masih resiliance atau tahan banting. "Sebab demand atau permintaan konsumen rokok masih setia atau loyal. Karena industri ini tergantung konsumen. Tapi loyalitas dan kebiasaan orang itu merokok,” kata dia dikutip dari Katadata.co,id, Jumat (14/8/2020).

Reza menambahkan, industri rokok terdampak cukup signifikan hanya terhadap kebijakan cukai rokok. Sebab, naiknya harga pita cukai akan berdampak kepada beban penjualan dan harga rokok di tingkat konsumen. “Namun konsumen masih bisa menyiasatinya dengan membeli satuan atau ketengan. Karena loyalitas konsumen, perusahaan rokok akan tetap tumbuh,” katanya.

Senada, Direktur Utama PT Danareksa Sekuritas, Friderica Widyasari, mengatakan industri rokok termasuk enam sektor bisnis emiten yang mampu bertahan di tengah pandemi corona. Selain industri rokok, menurutnya, sektor konsumer, tower, media, farmasi, dan telekomunikasi mampu bertahan di tengah pandemi. "Ini adalah sektor yang kita rekomendasikan dan cukup resilient dalam situasi saat ini,” katanya.