Lebih jauh Zaitun Rasmin mengatakan, aktivitas tersebut sudah enam kali secara berturut-turut dilakukan oleh pihak yang sama, juga merupakan peringatan keras bagi pemerintah, utamanya masyarakat sekitar

Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Zaitun Rasmin menegaskan, semua komponen bangsa harus ikut bertanggung jawab atas pesta gay yang terjadi berulang kali. Menurut Zaitun Rasmin, aktivitas itu sudah menjadi kesesatan dan menunjukkan bejatnya pelaku.

"Itu adalah penyakit kronis yang harus dihilangkan," ujar diZaitun Rasmin, Kamis (03/09/2020).

Lebih jauh Zaitun Rasmin mengatakan, aktivitas tersebut sudah enam kali secara berturut-turut dilakukan oleh pihak yang sama, juga merupakan peringatan keras bagi pemerintah, utamanya masyarakat sekitar.

"Kok bisa berulang kali seperti itu, tapi tidak terendus oleh berbagai pihak," tegasnya.

Zaitun Rasmin menegaskan, untuk menghindari aktivitas serupa ke depannya, perlu ada pengawasan ketat dari pemerintah, khususnya melalui pihak kepolisian dan pemerintah daerah. Bahkan, dirinya juga menyebut bahwa masyarakat harus ikut peduli, dan melaporkan setiap hal mencurigakan ataupun yang dirasa aneh di sekitarnya kepada pihak berwajib.

"Walaupun kita harapkan, jangan ada yang main hakim sendiri. Tapi laporkan ke pihak berwajib, termasuk ke MUI salah satunya," imbuhnya.

Pendiri Wahdah Islamiyah itu melanjutkan, Pemda, seharusnya juga aktif dalam melakukan pemantauan, baik menggandeng aparat maupun pihak lain yang berwenang. Katanya, hal itu ditujukan untuk mengatasi masalah lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ)  yang saat ini ia nilai masih subur.

Terkait pembinaan, dia menyarankan, agar mereka mau diobati dan disadarkan. KH Zaitun menyebut, selain dengan bantuan Psikolog Klinis, para pelaku LGBTQ juga diharapkan bisa berkomunikasi dengan ahli agama.

"Kita dari MUI atau ormas-ormas Islam bisa membantu. Jadi kalau kami diberi akses untuk mengajak mereka ke jalan yang benar, dan diminta membina agar mereka tidak kembali terpengaruh, kami bisa dan ingin," ungkap dia.

Sebelumnya sempat diberitakan, beberapa panitia kegiatan yang kini jadi tersangka, mengumpulkan peserta dalam grup yang bernama Hot Space Indonesia. Dalam grup obrolan dari aplikasi WhatsApp itu, diketahui ada 150 orang yang ikut bergabung. 

Untuk pelaksanaan pesta gay sendiri, tersangka mengaku telah melakukan sebanyak enam kali berturut-turut sejak medio 2018 lalu. Para peserta, kata dia, dipungut biaya sekitar Rp 150 ribu per orang, atau Rp 350 ribu per tiga orang.