Dalam susunan kepengurusan tim pemenangan, terdapat nama mantan calon wakil presiden yang juga mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Salahudin Uno. Selain itu, juga terdapat sejumlah politisi senior Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan seperti Maruarar Sirait dan Sukur Nababan. Ketiga nama tersebut terdaftar sebagai dewan pembina

Bakal pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan, Bobby Afif Nasution-Aulia Rahman, Sabtu (19/9/2020), merampungkan struktur tim pemenangan menghadapi pemilihan wali kota (Pilwalkot) Medan 9 Desember 2020.

Dalam susunan kepengurusan tim pemenangan, terdapat nama mantan calon wakil presiden yang juga mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Salahudin Uno. Selain itu, juga terdapat sejumlah politisi senior Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan seperti Maruarar Sirait dan Sukur Nababan. Ketiga nama tersebut terdaftar sebagai dewan pembina.

Sejumlah tokoh dari berbagai kalangan di Sumatera Utara (Sumut), juga turut dimasukkan sebagai dewan pembina. Adapun tokoh di Sumut yang duduk di dewan pembina antara lain RE Nainggolan, tokoh Tionghoa Sumut Indra Wahidin, Tongariodjo Angkasa, Alexander Toreh (Abeng), dan Sofyan Tan.

Sebagai Ketua Tim Pemenangan ditunjuk HT Milwan yang diketahui sebagai Politisi Partai Demokrat, dan sekretaris Tim Pemenangan Alween Ong.

Sementara itu, untuk seluruh ketua partai pendukung di tingkat provinsi duduk menjadi dewan pengarah. Sedangkan, ketua partai pendukung di tingkat Kota Medan masuk dalam struktur ketua pemenangan.

HT Milwan menyampaikan, pasangan Bobby Nasution-Aulia Rahman memiliki program yang tidak hanya ingin membangun infrastruktur. Namun, pasangan ini juga mempunyai program membangun sumber daya manusia dalam menghadapi Pilwalkot Medan.

“Bobby ingin lulusan SD se-Kota Medan bisa membaca Alquran. Semua umat Islam tentu mendukung sekali program ini. Karena saya punya pengalaman, keimanan dan ketakwaan harus ditanamkan sedini mungkin. Itulah menjadi ekstrakurikuler wajib di sekolah,” ujar HT Milwan.

Program ini, dilatarbelakangi oleh fakta bahwa selama ini orangtua memerintahkan anaknya harus mengaji, tapi karena kesibukan jadi tidak terpantau perkembangan anak. Sehingga banyak yang tidak bisa membaca Alquran meski sudah lulus SD.