Investasi Palapa Ring Barat menghabiskan biaya sebesar Rp3.48 Triliun dengan panjang kabel 2.200 kilometer.

AKSES internet yang lancar bukan lagi mimpi bagi masyarakat Natuna, Kepulauan Riau. Bahkan, mulai 2019, masyarakat yang bermukim di pulau terluar itu akan bebas merdeka menikmati dunia maya melalui berbagai sarana teknologi.

Itu semua terwujud setelah Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Informasi membangun jaringan koneksi Internet PRB (Palapa Ring Barat) yang menghubungkan sejumlah kabupaten dan kota di Pulau Sumatera dengan Kalimantan. 

Direktur Utama Bakti, Anang Latif, mengatakan investasi Palapa Ring Barat menghabiskan biaya sebesar Rp3.48 Triliun dengan panjang kabel 2.200 kilometer. "Pembiayaan proyek menggunakan skema availibility payment (AP) dengan kontrak proyek 15 tahun," kata Anang di Natuna, Kamis(13/12).

Saat ini PRB terdiri dari dari tiga paket proyek, diantaranya paket 1 dengan core availability 20 core, port availability 8 Port (10Gpbs) dan 14 Port (STM4/STM4/STM16/1 Gpps ), dengan kawasan kota penghubung Dumai, Siak Bengkalis, Tebing Tinggi, Karimun, Batam, dan Tanjung Pinggir.

Adapun paket 2 meliputi core availability 20 core, port availability 8 Port (10Gpbs) dan 14 Port (STM4/STM4/STM16/1 Gpps), dengan kawasan penghubung Batam Tanjung Bemban, Tarempa, Ranai, dan Singkawang (Kalimantan Barat).

Sementara, paket 3 PRB terdiri dari proyek paket 1 dengan core availability 20 core, port availability 8 Port (10Gpbs) dan 14 Port (STM4/STM4/STM16/1 Gpps), dengan kawasan kota penghubung Kuala Tungkal, Daik Lingga, Batam, dan Tanjung Bemban.

Proyek Palapa Ring Barat merupakan proyek Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU) pertama dalam sektor telekomunikasi, dengan menerapkan skema pembayaran ketersediaan layanan atau availability payment (AP).

Sejak terbangunnya palapa ring barat, kecepatan internet diwilayah pedesan mencapai 10Mbps, sementara di perkotaan mencapai 20Mbps.

Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) terus mendorong operator hingga pelosok  untuk melakukan pemanfaatan jaringan serat optik Palapa Ring Barat yang telah selesai, agar masyarakat di wilayah terdepan, terluar dan tertinggal (3T) mendapatkan manfaat maksimal.

Sinergitas antara Bakti dan operator dalam pemanfaatan jaringan PRB adalah dukungan nyata bagi target nawacita Pemerintah pusat  untuk membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah daerah pesisir perbatasan dan Desa dalam kerangka NKRI.

"Sejak terbangunnya palapa ring barat, kecepatan internet diwilayah pedesan mencapai 10Mbps, sementara di perkotaan mencapai 20Mbps," tutur Anang.

Selain itu, kerjasama dilakukan dengan pemda, kementerian dan lembaga, maupun instansi terkait untuk dapat merealisasikan Indonesia bebas sinyal. "Kami optimis Indonesia merdeka sinyal 2020 bisa terealisasi," kata Anang.

Menurut Wakil Bupati Natuna Ngesti Yuni Suprapti, kehadiran PRB sangat membantu percepatan pembangunan di Natuna. "Dahulu banyak yang menganggap Natuna tempat buang orang dan jin," kata Ngesti sambil tersenyum. 

Kehadiran Palapa Ring Barat (PRB) mengubah Natuna menjadi mudah terakses dengan internet. Bahkan pembangunan sarana telekomunikasi PRB dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Natuna terutama di bidang pendidikan.

"Kini Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) sudah bisa dilaksanakan meskipun baru di sebagaian sekolah. Begitu juga kegiatan-kegiatan masyarakat lainnya dapat terdorong dengan cepat dengan dukungan jaringan komunikasi yang lancar," ujar Ngesti.

Sementara itu Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Natuna Raja Darmika mengakui belum seluruhnya di kepulauan Natuna mendapat akses Internet terutama pulau yang sangat terdepan, yaitu Pulau Laut. "Mereka hanya bisa nelepon dan SMS saja," kata Darmika. Pada 2019, Kominfo mengupayakan Pulau Laut dapat terakses internet.[]