Pilkada Kabupaten Kutai Barat 2020 diikuti oleh 113.661 pemilih yang akan memberikan suara melalui 390 TPS

Kutai Barat adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Pusat pemerintahan kabupaten ini terletak di Sendawar. Kabupaten Kutai Barat merupakan pemekaran dari wilayah Kabupaten Kutai yang telah ditetapkan berdasarkan UU. Nomor 47 Tahun 1999. Secara Geografis Kabupaten Kutai Barat terletak antara 113'048'49" sampai dengan 116'032'43" BT serta di antara 103'1'05" LU dan 100'9'33" LS. Kutai Barat memiliki luas sekitar 20.384,60 km² dan berpenduduk sebanyak 162.199 jiwa pada tahun 2018 dan 164.048 jiwa tahun 2019 dengan pertumbuhan 1,13%.

Kabupaten Kutai Barat berbatasan dengan Kabupaten Mahakam Ulu di sebelah utara, Kabupaten Kutai Kartanegara di sebelah timur, Kabupaten Penajam Paser Utara di sebelah selatan dan di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Kabupaten Kutai Barat terbagi menjadi 16 kecamatan dan 190 kampung. Berdasarkan UU Nomor 2 Tahun 2013, Kabupaten Kutai Barat dimekarkan lagi melahirkan kabupaten baru yaitu Kabupaten Mahakam Ulu. Setelah pemekaran tinggal 15 kecamatan yang bertahan bergabung dalam Kabupaten Kutai Barat, terkecuali Kecamatan Long Apari, Long Pahangai, Long Bagun, Long Hubung dan Laham menjadi bagian Kabupaten Mahakam Ulu

Menurut data Kementerian Pertanian, pada tahun 2019 produksi karet nasional mencapai 3,5 juta ton. Dimana 2,9 juta ton atau 83 persen di antaranya adalah produksi perkebuan rakyat. Produksi ini meningkat dari tahun 2015 yang produksinya mencapai 3,1 juta ton. Secara umum memang produksi karet nasional mengalami peningkatan. Daerah dengan produksi terbesar masih dipegang oleh Provinsi Sumatera Selatan yang mencapai 27 persen dari total produksi nasional. Kemudian disusul Sumatera Utara dan Riau dengan share sebesar 12 dan 10 persen. Sedangkan pulau yang terbesar kedua kontribusi terhadap produksi karet nasional berada di Pulau Kalimantan yang kalau ditotal mencapai 20 persen. Salah satu daerah dengan potensi karet yang cukup menjanjikan adalah Provinsi Kalimantan Timur. Produksinya mencapai 90 ribu ton pada tahun 2018.

Kontribusi terbesar berasal dari Kabupaten Kutai Barat yang mencapai 39 persen. Mayoritas masyarakat Kabupaten Kutai Barat merupakan petani karet. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi karet Kabupaten Kutai Barat tahun 2016 hingga 2018 berturut turut adalah 30.669 ton, 34.964 ton, 35.306 ton. Produksi karet di Kabupaten Kutai Barat mengalami kenaikan, namun harga jual karet masih rendah. Para petani mengeluhkan harga jual karet yang rendah, sedangkan harga kebutuhan bahan pokok terus meningkat. Harga karet yang rendah membuat penduduk semakin sulit memenuhi kebutuhan dasarnya.

Jika kita melihat masyarakat miskin di Kutai Barat merupakan sebagian besar adalah petani dan mereka menggantungkan hidup pada perkebunan karet. Tercatat kemiskinan di Kutai Barat meningkat dari 8,33 persen pada tahun 2015 menjadi 9,15 persen pada tahun 2018. Boleh jadi harga kebutuhan yang meningkat tetapi tidak dibarengi dengan harga jual karet yang memadai membuat masyarakat semakin sulit keluar dari garis kemiskinan. Tentu perlu kajian lebih jauh untuk menyimpulkan itu.

Merosotnya harga jual karet karena selama ini karet hasil produksi petani di Kutai Barat, penjualannya diangkut oleh tengkulak ke Samarinda dan Banjarmasin. Hal tersebut menyebabkan merosotnya berat timbangan karet ketika sampai di pabrik setelah beberapa hari di perjalanan, ditambah tingginya biaya angkut dan biaya operasional. Pemerintah daerah menyadari bahwa masalah merosotnya harga jual karet tersebut memberikan dampak pada kesejahteraan hidup para petani di Kabupaten Kutai Barat. Oleh sebab itu, pemerintah daerah terus berupaya untuk menstabilkan harga jual karet tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kutai Barat melalui Dinas Pertanian yaitu akan melakukan revitalisasi/peremajaan karet-karet yang tidak produktif/tidak menghasilkan getah yang sesuai diharapkan karena memang usianya yang sudah tua, di 4 kecamatan, yakni Kecamatan Barong Tongkok, Sekolaq Darat, Mook Manaar Bulatan dan Linggang Bigung.

Kutai Barat memiliki potensi yang sangat luar biasa untuk budi daya karet. Oleh sebab itu Pemerintah Daerah sungguh-sungguh dan fokus mengembangkan serta mengelola dengan baik sehingga menghasilkan karet yang berkualitas, dan menjadikan Kutai Barat sebagai pemimpin di sektor perkebunan karet khususnya di Kaltim. Pemkab Kutai Barat berharap dengan adanya revitalisasi dan pengembangan kebun karet, masyarakat bisa meningkatkan produksi karet dan tentunya harga karet membaik sehingga membawa dampak perekonomian yang besar bagi masyarakat Kutai Barat.

Melihat tindakan pemerintah tersebut rasanya belum cukup untuk mengatasi permasalahan karet ini. Perlu penyediaan pengelolaan atau pabrik sendiri sehingga tidak perlu lagi dikirim ke kabupaten bahkan ke provinsi lain. Pengelolaan sendiri yang dilakukan tidak jauh dari wilayah produksi hingga sampai ke tahap siap ekspor ke daerah lain, bahkan ke luar negeri, akan meningkatkan nilai jual dari produksi karet di Kutai Barat. Pemerintah juga harus memastikan hasil panen dari karet bisa difasilitasi dengan baik agar tidak dimainkan harganya oleh para tengkulak. Petani kadang tidak berdaya harus menjual dengan harga murah pada para tengkulak karena tidak punya modal dalam proses produksi. Dengan sendirinya maka perekonomian di Kutai Barat akan semakin bergairah dan petani semakin bisa menikmati hasil perkebunan karetnya dengan baik. Produksi karet meningkat dan harga pun semakin menjanjikan. 

Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) dari tahun ke tahun kian membaik. Dengan mengembangkan peluang pengembang usaha ekonomi mikro dan usaha kecil menengah, di sektor kerajinan, kuliner khas tradisional, dan pariwisata. Membaiknya kondisi ekonomi Kubar saat ini dapat dilihat dari angka kemiskinan yang kian menurun. Menurut data yang ada tahun ini jumlah angka kemiskinan hanya berkisar  7,52 persen, sementara di tahun 2016 lalu berkisar 8,72 persen. Hal itu juga bisa dilihat juga dengan berkurangnya penerima jatah beras sejahtera (Rastra) tahun ini dari tahun sebelumnya. Untuk tahun ini jumlah KPM (Keluarga Penerima Manfaat) yang menerima beras itu mengalami penurunan menjadi 8.878, sementara tahun lalu jumlahnya mencapai 9.864 KPM. Serta tingginya jumlah nasabah potensial Bank Kaltim cabang Kutai Barat yang saat ini mencapai 62.299 orang, sehingga memposisikan Kutai Barat nomor tiga setelah Samarinda dan Kutai Kartanegara.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kutai Barat, akhirnya menetapkan dua pasangan calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Kutai Barat (Kubar) pada pelaksanaan Pilkada serentak 9 Desember 2020 mendatang.  Ditetapkan dua pasangan calon kepala daerah dalam pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kubar, yakni pasangan petahana FX Yapan-H Edyanto Arkan (YAKAN) dan Martinus Herman Kenton-H Abdul Azizs (Mas). Nomor urut 1 dengan nama calon bupati/walikota: Martinus Herman Kenton, Sh yang merupakan seorang Swasta/Lain-lain. Pendampingnya adalah H.Abdul Azizs, Se.,Mm yang bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (PNS/ASN). Pasangan calon ini maju lewat jalur perseorangan. Nomor urut 2 dengan nama calon bupati/walikota: Fx Yapan, Sh yang merupakan seorang [Bupati]. Pendampingnya adalah Edyanto Arkan, Se yang bekerja sebagai Wakil Bupati. Pasangan calon ini maju lewat jalur Partai Politik. Didukung Oleh Pan, Gerindra, Pdi-Perjuangan, Golkar, Nasdem, PKS, Perindo, Hanura dan Demokrat. Dalam tahapan Pilkada Kabupaten Kutai Barat (Kubar) 2020, saat KPU Kubar telah menetapkan jumlah pemilih yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Sementara (DPS), yakni sebanyak 113.661 pemilih. Pemilih laki-laki sebanyak 59.617, perempuan sebanyak 54.044 pemilih. Tersebar di 390 tempat pemungutan suara (TPS) pada 16 kecamatan.