Konsumsi masyarakat kelompok menengah bawah lebih tinggi dari kelompok menengah atas.

Ekonom Senior Chatib Basri mengatakan, pandemi COVID-19 membuat terjadinya pergeseran pola konsumsi masyarakat. Pasalnya, konsumsi masyarakat kelompok menengah bawah lebih tinggi dari kelompok menengah atas.

Perubahan ini terjadi karena, kelas menengah atas lebih memilih untuk menabung uangnya daripada membelanjakan. Ini yang membuat daya beli tetap rendah meski pembatasan sosial berskala besar telah dilonggarkan.

"Jadi yang kita bisa disimpulkan adalah bahwa yang melakukan belanja itu memang adalah kelompok menengah bawah. Bagaimana dengan kelompok menengah atas? mereka memiliki uang tapi mereka tidak belanja," ujarnya yang dikutip, Minggu (22/11/2020).

Menurutnya, kelas menengah atas atau orang kaya lebih memilih menahan belanja karena khawatir krisis masih akan berlangsung lama. Sehingga lebih memilih menabung uangnya untuk masa depan.

"Orang berpikir jika krisis ini berjalan agak panjang, maka yang mereka lakukan adalah menahan belanja untuk mempersiapkan tabungan ke depan," katanya dikutip CNBC Indonesia.

Lanjutnya, kelompok atas tersebut akan menahan belanjanya sampai yakin bahwa perekonomian akan pulih dalam waktu dekat. Inilah yang menjadi penting bagi pemerintah untuk memberikan bantuan bagi masyarakat kelas bawah, agar konsumsi bangkit dan perekonomian kembali membaik.

Sebab, kelompok menengah bawah tidak memiliki banyak tabungan untuk di masa depan. Sehingga mau tidak mau harus bekerja keluar rumah yang bisa membuat penyebaran virus corona semakin meluas. Jika semakin meluas maka akan butuh waktu lebih lama mengatasinya.

"Karena itu penting sekali untuk pemerintah memberikan BLT atau bantuan sosial, karena jika diberikan kelompok menengah bahwa, mereka akan spend uangnya. Sementara kelompok menengah atas belum membelanjakan uangnya," jelasnya.