Sejak pertengahan sesi perdagangan sore berlangsung akhir pekan ini, Jumat (20/9), Rupiah terpantau mulai mampu menginjak zona penguatan.

Sentimen dari prospek perundingan dagang AS-China yang akan dihelat awal Oktober depan terlihat masih menyita perhatian investor  di sepanjang sesi perdagangan akhir pekan ini, Jumat (20/9).  Namun serangkaian pernyataan terkini dari Beijing dan Washington yang kurang antusias dalam  mencapai kesepakatan dagang membuat pelaku pasar ragu.

Aksi akumulasi aklhirnya terjadi secara selektif dan terbatas. Hal ini kemudian membuat gerak naik indeks di bursa saham utama Asia cenderung moderat.

Sebagaimana dimuat dalam laporan sebelumnya,  pernyataan yang  bernada optimis  namun moderat dari petinggi Amerika Serikat terkait dengan prospek pencapaian kesepakatan AS-China dalam perundingan awal Oktober depan.   Sementara di sisi lainnya, pernyataan pihak  China juga memperlihatkan situasi yang kurang optimis dengan menyebut bahwa China tidak dalam situasi terburu-buru untuk mencapai kesepakatan dagang dengan AS.

Investor akhirnya jatuh dalam keraguan, dan hingga sesi perdagangan ditutup,  Indeks Nikkei (Jepang) naik  0,16% untuk menjangkau posisi 22.079,09, indeks Hang Seng (Hong Kong) turun  0,13% untuk berada di kisaran 26.435,67,  sementara indeks ASX 200 (Australia) menguat moderat 0,2% untuk berada di posisi  6.730,8,  serta indeks KOSPI (Korea Selatan) yang menguat 0,54% untuk menyisir posisi 2.091,52.

Pada bursa saham Indonesia, gerak turun indeks harga saham gabungan (IHSG) malah semakin mengejutkan di tengah sentimen penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia kemarin.  IHSG menutup sesi akhir pekan ini dengan menurun 0,2% untuk menetap di 6.231,47.

Sementara menggembirakan datang dari  pasar valuta, di mana nilai tukar Rupiah akhirnya mampu beralih  ke zona penguatan di sesi perdagangan sore. Rupiah sebelumnya  terpantau catat konsisten menapak zona pelemahan terbatas di sepanjang hari ini. Kini, Rupiah diperdagangkan di kisaran Rp14.050 per Dolar AS atau menguat 0,04%. Sentimen kecender4ungan menguatnya mata uang Asia terliuhat mampu menepis sentimen penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia.