Rupiah sangat prospektif untuk mengandangkan Dolar AS di kisaran Rp13.000-an pada sesi perdagangan pekan depan.

Sesi  perdagangan di sepanjang pekan ini akhirnya telah memperlihatkan tekanan jual yang mendera mata uang Rupiah mulai reda. Setelah sempat terpukul oleh seranghkain sentimen dari ledakan akibat serangan Drone di kilang minyak Arab Saudi, sentimen terkini dari penurunan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS, The Fed,  akhirnya mampu membuat mata uang Dolar AS sedikit jinak.

Hal ini kemudian membuat tekanan jual pada Rupiah mulai berkurang, namun sentimen internal yang kurang menggembirakan bagi Reupiah justru hadir dan menghambat prospek cerajh Rupiah di dua hari sesi perdagangan akhir pekan.

Sebagaimana diwartakan sebelumnya,  pihak Bank Indonesia yang pada Kamis (19/9) lalu yang menurunkan suku bunga acuannya. Langkah Bank Indonesia ini sekaligus mengikuti tren yang sedang terjadi di hampir seluruh dunia. Namun konsekuensi seriusnya adalah gerak menguat Rupiah menjadi terhambat.

Beruntungnya, Rupiah masih mampu membukukan penguatan, seklalipun sangat tipis, di sesi perdagangan akhir pekan kemarin, Jumat (20/9). Pantauan menunjukkan, Rupiah yang ditutup di kisaran Rp14.050 per Dolar AS atau menguat 0,04%.

Sementara pada sisi lain, tinjauan teknikal terkini menunjukkan, prospek Rupiah yang masih cukup cerah, karena masih berada dalam tren penguatan yang cukup solid.  Dengan posisi terkini di kisara Rp14.050 per Dolar AS, dan tren penguatan masih cukup solid, maka dengan mudah pada sesi perdagangan pekan depan, Rupiah akan mampu mengandangkan Dolar AS di kisaran Rp13.000-an.

Hanya saja, sentimen terkini dari berbaliknya perundingan dagang AS-China menuju kesuraman, akan menjadi gangguan serius bagi Rupiah untuk terus mengandangkan Dolar AS di level Rp13.000-an.