Akun palsu buatan InsightID akan mengunggah sebuah tautan situs yang mendukung kemerdekaan Papua. Lalu, akun-akun buatan lainnya akan menyerang

Facebook dan Instagram menutup puluhan akun terkait isu Papua. Akun-akun itu dinilai melakukan perilaku tak otentik terkoordinasi (Coordinated Inauthentic Behaviour, CIB).

Ada 42 halaman (pages), dan 34 akun instagram yang ditengarai melakukan perilaku CIB yang ditutup pada 3 Oktober 2019. Seluruh akun tersebut dibuat oleh sebuah perusahaan bernama InsightID.

Perilaku CIB merupakan sebuah pola di mana satu akun atau lebih membagikan konten dengan narasi yang serupa untuk mengaburkan informasi. Konten yang disebar belum tentu hoaks atau menyalahi aturan komunitas seperti sara atau seksual, dalam CIB Facebook membaca pola yang aneh dari cara akun itu menyebar konten.

Kepala Kebijakan Keamanan Siber Facebook, Nathaniel Gleicher mengatakan pengikut akun-akun palsu itu mencapai 410 ribu akun per halaman Facebook dan 120 ribu mengikuti setidaknya satu akun Instagram. Adapun mereka membelanjakan sekitar US$300 ribu atau setara Rp4,2 miliar untuk iklan di Facebook.

Facebook mengidentifikasi akun-akun ini melalui investigasi yang sedang berlangsung terhadap dugaan perilaku tidak autentik yang terkoordinasi di wilayah tersebut. Facebook juga melampirkan contoh akun palsu dan unggahan yang dihapus karena perilaku yang tidak autentik atau menyebar hoaks Papua Barat.

Begini cara kerjanya, akun palsu buatan InsightID akan mengunggah sebuah tautan situs yang mendukung kemerdekaan Papua. Lalu, akun-akun buatan lainnya akan menyerang unggahan soal Papua merdeka itu. Tujuannya, agar masyarakat yang mengikuti perdebatan ini tergiring atau bingung.

Perusahaan apa InsightID itu?

Dilansir dari Mojok, InsightID adalah perusahaan startup berbentuk agensi jasa konsultan individu yang dibentuk sejak Februari 2018.

Perusahaan ini beralamat di Jakarta Selatan menempati sebuah rumah bertingkat dua berwarna putih dengan pagar hitam. Selain ketiga pendirinya, InsightID juga mempekerjakan beberapa Content Writer yang digaji dengan kisaran harga Rp2-3 juta per bulan.

Dalam sebulan, mereka membatasi untuk mengerjakan 2-3 proyek saja. Dalam situswebnya, InsightID mengerjakan proyek seperti Yogyakarta Innovation Ecosystem Report dan Papua Program Development Initiative untuk Cendrawasih Foundation.

Sama seperti situs perusahaan yang dihapuskan dan disamarkan, jejak digital ke situsweb yang dikelola InsightID ini juga dihapus.

Mengenai tudingan menyebar hoax Papua, InsightID buka suara. Dilansir dari Jawapos, InsightID menyatakan bahwa konten-konten mereka di Facebook mendukung persatuan Indonesia.

“Kami melawan narasi hoaks Separatis Papua Merdeka yang memanfaatkan isu kemanusiaan untuk mendapatkan dukungan publik internasional atas agenda politiknya dan memperkeruh pencapaian solusi damai untuk Papua.”

Pihak InsightID menyebut, konten-konten mereka fokus ke pesan bhinneka tunggal ika, persatuan Indonesia, dan optimisme usaha-usaha Indonesia dalam menyelesaikan masalah Papua. “Tidak benar jika konten-konten kami mendukung kemerdekaan Papua Barat.”

Begitu juga dengan uang sejumlah US$300 ribu atau sekitar Rp 4,2 miliar yang digunakan utnuk beriklan terkait Papua di Facebook. InsightID menegaskan ada disinformasi. Sebab, InsightID tidak pernah mengeluarkan uang sebanyak itu untuk beriklan.

“Kami sangat yakin bahwa jumlah itu adalah GABUNGAN dari berbagai kelompok yang mengangkat isu Papua, baik Kelompok Separatis Papua Merdeka maupun Pejuang Pro Indonesia lainnya.”

Lebih jauh InsightID mengklaim bahwa Facebook hanya membuka kelompok Pro Indonesia. Yakni, InsightID. Tapi, Facebook tidak membuka siapa di belakang akun-akun kelompok Separatis Papua Merdeka. Menurut InsightID itu menciptakan persepsi yang ambigu di publik.

"Membuat kami dituduh melakukan 2 hal yang sangat bertentangan: mendukung kemerdekaan Papua dan mendukung persatuan Indonesia. Faktanya, InsightID berdiri sangat jelas di posisi membela dan menjaga persatuan Indonesia.”

Soal akun InsightID yang saat ini dihapus Facebook, disebut bukan karena hoaks. Namun, ada alasan teknis di platform jejaring tersebut. Yakni, pola yang tidak autentik.