Dalam kerja sama operasi (KSO) Merpati dan 10 BUMN ini akan difokuskan pada bisnis kargo.

Sebanyak sepuluh BUMN patungan membiayai restrukturisasi bisnis PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) atau Merpati Airlines. Tujuannya agar salah satu maskapai nasional itu bisa terbang lagi.

Kesepuluh BUMN tersebut adalah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), PT Pertamina (Persero), Perum Bulog, Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero), PT PLN (Persero), serta Himbara yang terdiri dari Bank BTN, Bank Mandiri, Bank BNI, dan Bank BRI.

Direktur Utama Merpati Airlines, Asep Ekanugraha, mengatakan, dalam kerja sama operasi (KSO) ini akan difokuskan pada bisnis kargo. Karena Merpati belum memiliki izin terbang lagi, maka pesawat yang digunakan untuk bisnis adalah milik Grup Garuda.

"Ini kerja sama BUMN untuk sinergi kargo. Merpati harus bisa running juga, sebelumrunning full itu kita harus bisa hidupi diri sendiri. Iya (sebagai sumber pemasukan)," kata Asep usai penandatangan KSO di Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (16/10/2019).

Merpati Airlines berhenti terbang sejak 2014. Sejak tak bisa terbang, Merpati tidak memiliki pemasukan. Sumber pendapatan mereka yang masih ada berasal dari dua anak usahanya yakni Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) dan Training Center.

Asep menjelaskan, bisnis kargo ini akan difokuskan pada pengiriman barang ke daerah Indonesia Timur. Nantinya, pesawat yang dipakai berasal dari Citilink yang merupakan bagian dari Garuda Indonesia Grup.

Indonesia Timur menjadi tujuan bisnis kargo mereka karena sebelumnya, Merpati pernah melakukan penerbangan ke sana saat masa-masa kejayaannya. Asep mengatakan, bisnis ini bisa dijalankan kemungkinan bulan depan. Tapi, Asep enggan menjelaskan berapa keuntungan yang didapat dari kerja sama ini.

"Kalau enggak salah November (bisnisnya jalan)," lanjut dia.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Askhara, menambahkan, perseroan ikut dalam restrukturisasi Merpati Airlines atas permintaan dari Menteri BUMN Rini Soemarno.

Selain itu, lanjut dia, kerja sama ini juga ingin membantu Merpati mendapatkan kembali bisnis dan bisa profit kembali, sehingga bisa membayarkan utang-utangnya.

"Pada waktu itu, Ibu Rini meminta Garuda ke saya, pikirkan gimana menolong Merpati. Kami berpikir simple, gimana kerja sama operasi supaya kondisi Merpati saat ini tak drag down atau menarik performancenya Garuda Indonesia," kata Ari.

"Kerja sama ini bantu Merpati untuk going concern mendatangkan bisnis buat Merpati, Garuda Indonesia dalam hal ini tak merugi tak terbebani dan bisa mengembangkan pasarnya di Indonesia dan Internasional," tambah dia.

Adapun kerja sama operasi yang dilakukan antara Garuda Indonesia dan Merpati berupa, kerja sama dalam bidang Pelayanan Kargo Udara, Ground Handling, Maintenance Repair & Overhaul (MRO) dan Training Center.

Sedangkan, Garuda Indonesia Group bersama dengan beberapa BUMN lainnya seperti Semen Indonesia, Pertamina, Perum Bulog, Perusahaan Perdagangan Indonesia, dan PLN akan mendukung pengelolaan usaha kargo milik Merpati melalui aktivitas pelayanan pengiriman barang-barang (kargo) di wilayah Papua.

Dalam hal kerja sama pengelolaan usaha maintenance, repair, and overhaul (MRO), Merpati Nusantara juga bertindak sebagai agen pemasaran yang menyediakan layanan untuk perawatan turbin dari Pertamina dan PLN yang difasilitasi oleh MRO Merpati Nusantara Group dan Garuda Indonesia Group.

Sementara, dalam usaha training centre, Garuda Indonesia akan berpartisipasi dalam mengelola pusat pendidikan milik Merpati Nusantara agar ke depannya unit usaha ini dapat menjadi salah satu sumber pendapatan besar Merpati.

"Kerja sama ini ditandatangani untuk jangka waktu 38 tahun, tapi setiap periodik 5 tahun bisa di-review dan back to back dengan BUMN lain. Yang paling penting kita menolong Merpati sehingga bisa going concern dan structure ini sudah diterima PPA sebagai kuasa pemerintah untuk restrukturisasi Merpati," katanya.