Laporan terkini menunjukkan kekalahan tipis dukungan bagi Perdana Menteri Boris Johnson soal Brexit.

Sentimen dari berhasilnya proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa mencapai kesepakatan nampaknya belum benar-benar aman. Laporan terkini menyebutkan, proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang disebut Brexit itu, yang kesepakatannya masih harus mendapatkan persetujuan dari parlemen Inggris.

Sebelumnya diwartakan, kesepakatan yang akhirnya berhasil dicapai antara perunding dari Inggris dan Uni Eropa di menit-menit akhir menjelang batas waktu yang telah ditentukan.  Sentimen tersebut sebelumnya telah berhasil melonjakkan indeks di seluruh bursa saham global.

Namun sebagaimana pula telah diperingatkan sejumlah analis, bahwa kesepakatan tersebut berpotensi sia-sia, mengingat dukungan parlemen pada Perdana Menteri Inggris Boris Johnson yang kurang memadai untuk meloloskan kesepakatan Brexit tersebut.

Laporan terkini (hingga Sabtu dinihari waktu Indonesia barat)  menunjukkan, dukungan dari parlemen Inggris yang telah mengalami kekalahan tipis untuk kesepakatan Brexit tersebut. Bila kekalahan ini berlanjut dan gagal mendapatkan persetujuan parlemen, maka Brexit akan menjadi semakin berada dalam ketidak pastian atau sangat mungkin akan terjadi Brexit tanpa kesepakatan, di mana akan dengan mudah menghantarkan perekonomian Inggris dalam jurang  resesi.

Laporan juga menyebutkan, pihak Perdan Menteri Boris Johnson yang masih berupaya melakukan loby di parlemen untuk memenangkan dukungan lolosnya kesepakatan Brexit yang oleh sejumlah pihak kali ini dinilai sebagai lebih buruk bagi Inggris ketimbang usulan yang diajukan Perdana Menteri Inggris sebelumnya Theresa May.