Langkah parlemen Inggris yang menunda proses pemungutan suara untuk menyetujui kesepakatan Brexit menuai respon buruk di pasar valuta Asia pagi ini, Senin (21/10).

Setelah berhasil mencapai kesepakatan dengan Uni Eropa  pada proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang sering disebut Brexit, situasi di Inggris nampaknya masih harus menghadapi proses berliku. Kesepakatan Brexit tersebut masih harus mendapatkan persetujuan dari parlemen Inggris.

Sementara dalam pertemuan Sabtu akhir pekan lalu, pihak parlemen Inggris yang menunda pemungutan suara untuk kesepakatan Brexit tersebut. Situasi ini dengan cepat direspon negatif di pasar valuta dengan ;langsung mendiskon nilai tukar mata uang Inggris, Poundsterling.

Nilai tukar Poundsterling terhadap Dolar AS yang disimbolkan GBPUSD, pagi awal pekan inoi, Senin (21/10) di Asia terpantau sempat meninju level terendahnya di 1,28734 dari posisi penutupan akhir pekan lalu di kisaran 1,29488.  Ini menunjukkan gerak nilai tukar Pound telah terpangkas 0,6% dalam mengawali sesi perdagangan awal pekan ini.

Meski demikian kisaran penurunan tersebut terlihat masih  jauh dari mengkhawatirkan, setidaknya hingga sesi pagi ini di Asia. Hal ini mengingat lonjakan GBPUSD yang telah berlangsung tajam dan konsisten dalam beberapa hari sesi perdagangan pekan lalu.  Koreksi yang terjadi di pagi ini bisa dilihat sebagai sekedar hadirnya momentum teknikal usai membukukan rentetan lonjakan tajam.

Hal ini juga masih seiring dengan sentimen yang berkembang hingga kini, di mana sejumlah pelakiu pasar masih meyakini bahwa Perdana Menteri Boris Johnson sekedar membutuhkan waktu tambahan untuk proses tercapainya kesepakatan Brexit.

Grafik berikut memperlihatkan tekanan jual yang cenderung temporer yang menimpa GBPUSD dalam 6 jam pertama  sesi perdagangan awal pekan ini.