Harga minyak kembali mengalami keruntuhan tajam di sesi awal pekan kemarin, Senin (21/10) dengan berakhir di $53,31 per barel.

Sikap pelaku pasar di bursa komoditas minyak dunia terlihat masih belum sepenuhnya optimis dalam mengawali sesi perdagangan pekan ini, Senin (21/10). Harga minyak dunia akhirnya harus kembali runtuh cukup tajam dalam mengawali pekan ini.

Laporan menunjukkan, harga minyak untuk jenis WTI yang ditutup di kisaran$53,31 per barel setelah terpangkas  hampir 1%. Pelaku pasar terlihat masih menjadikan sentimen suramnya prospek kinerja perekonomian global sebagai landasan untuk melakukan tekanan jual.

Sebagaimana diwartakan sejumlah media internasional, hasil perundingan dagang AS-China dua pekan lalu yang memang membuka harapan bagi kinerja perekonomian dunia untuk terhindar dari pukulan lebih berat akibat perang dagang. Namun secara keseluruhan, kinerja perekonomian dinilai masih tetap muram dan menjadikan permintaan minyak dunia berada dalam kerawanan serius.

Tekanan jual akhirnya berlangsung untuk sekaligus mengikuti potensi teknikal usai melakukan lonjakan tajam di sesi akhir pekan lalu.

Sementara sentimen lain yang turut menjadikan pelaku pasar bersikap pesimis datang dari Rusia, di mana kapasitas produksi di negeri produsen minyak terbesar kedua di dunia itu masih belum menemui kepastian yang jelas untuk menjalankan kesepakatan pemangkasan produksi yang diambil bersama OPEC.

Namun secara umum pelaku pasar masih teryakinkan bahwa Rusia masih bertekad untuk turut mematuhi kesepakatan pemangkasan produksi dengan OPEC guna mempertahankan harga minyak dari ancaman  keruntuhan.